Minggu, 24 November 2013

Akulah Pintu (Yohanes 10:1-10)

Ada seorang pria namanya adalah Edy. Si Edy ini punya karakter yang agak unik, ia sering marah-marah. Karakternya yang suka marah-marah membuat teman-temannya menyebut dia sebagai Edy si pemarah. Teman-teman, julukan berfungsi untuk memperlihatkan salah satu sifat dari orang yang dibicarakan. Jika ada orang yang menulis surat kepadamu, misalnya “Jane yang baik,” maka gelar baik yang digunakan dalam sebutan itu menegaskan sifat dari si Jane yang memang sangat positif.

Jika kita memperlajari Alkitab, kita tahu bahwa tokoh-tokoh dalam Alkitab ada yang mempunyai gelar atau sebutan tertentu. Misalnya saja Musa yang disebut Alkitab sebagai orang yang paling lembut hatinya. Demikian juga dengan Yohanes yang Alkitab sebut sebagai orang tersesar dari semua orang yang pernah dilahirkan perempuan.

Tahukah kamu, siapakah dalam Alkitab yang memupunyai gelar terbanyak? Benar, orang yang mempunyai gelar terbanyak adalah Yesus. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus mempunyai banyak gelar. Ia disebut anak Daud, dia dipanggil anak Abraham, Anak Allah, Tuhan, Anak Manusia, dst. Diantara sekian banyak gelarnya, salah satu yang cukup sulit untuk dimengerti adalah sebutan Yesus sebagai “pintu.” Mari kita membaca sekali lagi Yohanes 10:9 “Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat, dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.”

Injil Yohanes adalah injil yang sangat unik, dalam injil ini ada 7 perkataan yang sering disebut dengan 7 Ucapan Akulah, dalam bahasa Yunani istilah Akulah digunakan istilah “Ego Eimi.” Selain 7 ucapan Akulah, sebenarnya dalam injil Yohanes masih ada 7 tanda dan 7 kotbah yang Yesus sampaikan. Yohanes ini senang menggunakan angka 7. Memang bagi orang Yahudi angka 7 adalah angka yang penting, angka tersebut dianggap menggambarkan kesempurnaan.

Untuk mengerti apakah maksud Yohanes menyebut Yesus dengan sebutan Akulah pintu, kita harus mengerti terlebih dahulu mengapa Yohanes dalam injilnya membicarakan mengenai 7 ucapan Akulah, 7 tanda dan 7 kotbah. Yohanes sendiri mengatakan bahwa semua yang dicantumkan dalam bukunya dituliskan supaya kita percaya bahwa Yesuslah mesias anak Allah dan supaya melalui iman kita kepadanya kita beroleh hidup yang kekal. Mari kita membaca Yohanes 20:31.

Dari pemikiran di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan logis bahwa ucapan Akulah Pintu merupakan salah satu jawaban dari injil Yohanes terhadap pertanyaan “mengapa kita harus percaya kepada Yesus?” Yohanes menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban: sebab melalui Yesus Allah sedang memimpin manusia kepada keselamatan (pintu bagi karya Allah) dan melalui Yesus pula, manusia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Allah.

Mengapa pertanyaan diatas penting? mengapa Yohanes perlu menegaskan bahwa Yesus adalah mesias? Jemaat yang dilayani oleh Yohanes adalah jemaat campuran, yakni campuran orang Yunani dan Yahudi. Mereka sulit untuk percaya Yesus, mengapa? sebab orang-orang Yahudi mengatakan Yesus itu bukanlah Allah, Yesus tidak benar-benar bangkit, mayat Yesus hilang karena dicuri murid-muridnya. Orang-orang Yunani juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab bagi mereka, Allah itu tidak mungkin jadi manusia. Yohanes ingin menjelaskan bahwa kemesianisan Yesus bukanlah kabar burung, Yesus jadi mesias bukan karena murid-muridnya mengembangkan cerita burung atau isapan jempol belaka. Keyakinan orang-orang Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan mesias bersumber dari perkataan Yesus sendiri.

Satu kali ada seorang tidak percaya berdebat dengan seorang anak Tuhan. Orang yang tidak percaya berkata “dari mana kamu tahu bahwa Yesus itu Tuhan?” apa buktinya bahwa Yesus adalah Tuhan? orang Kristen itu kemudian berkata, saya memang tidak bisa membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab jika saya bisa membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka Yesus pasti bukan Tuhan. Mengapa demikian? sebab Tuhan itu jauh lebih besar dari manusia, jika manusia bisa membuktikan Tuhan, itu berarti yang kita lebih besar dari apa yang disebut Tuhan teresebut, dan itu pasti bukan Tuhan. Namun, saya tetap percaya bahwa Yesus adalah Tuhan sebab Ia sendiri yang bilang kepada kita bahwa ia adalah Tuhan dan mesias.

Salah satu ucapan Yesus yang menegaskan jati diri Dia sebagai mesias adalah Akulah puntu. Kita tahu bahwa pintu itu punya dua fungsi. Fungsi pertama adalah jalan bagi seseorang yang ingin masuk ke dalam rumah, dan fungsi kedua adalah jalan bagi orang yang ada dalam rumah untuk keluar rumah. Yesus menyebut dirinya pintu sebab melalui dirinya Tuhan menyatakan karyanya untuk menyalamatkan manusia dan melalui diri Yesus juga manusia bertemu dengan Allah. Jadi sebutan ‘Akulah pintu” menegaskan peran Yesus yang unik yang memediasi atau menjadi mediator antara Allah dan manusia.

Dalam ayat 6, Tuhan Yesus dengan sangat jelas mengatakan bahwa apa yang dia bicarakan dalam ayat 1-5 adalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan dalam ayat 1-5 sebenarnya hendak menegaskan sebuah kebenaran bahwa seorang gembala pastilah akan datang kepada domba-dombanya melalui pintu dan bukan melompati tembok. Mengapa demikian? sebab ia adalah pemilik dari domba-dombanya, ia memiliki akses untuk masuk ke kandang domba. Selain itu, domba-domba pun mau mendengarkan suaranya dan mengikuti sang gembala sebab orang tersebut mereka kenali dan ketahui sebagai pemiliki atau pemelihara hidup mereka.

Perumpamaan ini dicertakan Yesus untuk memperlihatkan bahwa melalui dirinya adalah sang pemilik dan pemelihara manusia, yakni Allah datang dan memimpin manusia supaya mereka memiliki hidup yang kekal. Dan sebaliknya, hanya melalui Yesus juga, manusia akan mendapatkan hidup yang kekal, hal ini dibicarakan dalam Yohanes 10:9-10. Jadi Yesus adalah pintu, bagi Allah untuk memimpin manusia kepada keselamatan, dan disisi yang lain Yesus juga adalah pintu bagi manusia untuk mendapatkan Allah, yakni mendapatkan keselamatan (bdk. Yoh 17:3).

Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa di akhir zaman akan ada orang-orang yang ngaku-ngaku dirinya adalah mesias. Kita harus tetap pada keyakinan kita bahwa hanya Yesuslah mesias dan tidak ada yang lain. Dalam Matius 24:23-24 dituliskan: “Pada waktu itu, jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dasyat dan mukzisat-mukzisat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Yang menarik adalah orang-orang yang mengaku dirinya mesias ini ternyata dapat melakukan tanda-tanda yang bersifat supraalamiah. Alkitab mengatakan mereka melakukan tanda-tanda yang dasyat dan mukzisat-mukzisat. Di zaman sekarang ada banyak orang terpesona dengan yang namanya tanda dan mukjisat. Terkadang orang-orang Kristen masa kini mengukur benar atau tidaknya hamba Tuhan berdasarkan mukjisat. Namun, Alkitab jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita bahwa mukjisat dan tanda dapat juga dilakukan oleh nabi palsu dan mesias palsu. Itulah sebabnya kita harus waspada, tidak semua orang dan semua gereja yang terdapat kesembuhan adalah hamba Tuhan ataua gereja yang benar. Kita harus tahu bahwa mesias yang sejati telah datang, Ia adalah Yesus. Melalui Yesus, Allah mengerjakan keselamatan bagi kita dan melalaui Yesus pula kita akan beroleh hidup yang kekal. Inilah yang membuat kita percaya kepada Yesus.


Apakah kita sudah percaya kepada Yesus? Ada banyak orang merasa bahwa mereka tidak perlu percaya Yesus sebab mereka merasa dapat menyelamatkan hidup mereka sendiri. Memang dalam dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan hal yang demikian. Namun, Firman Tuhan menunjukkan kepada kita hal yang sebaliknya, manusia itu tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia itu butuh diselematkan. Dan inilah yang menjadi tujuan dari kedatangan Tuhan Yesus, supaya kita dapat diselamatkan. Kita perlu percaya kepada Yesus sebab tidak ada jalan lain bagi manusia untuk diselamatkan kalau tidak melalui Yesus.

Minggu, 17 November 2013

Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup

Kata Yesus kepadanya: "Aku adalah satu-satunya jalan dan satu-satunya kebenaran
dan satu-satunya kehidupan. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6)

Perkataan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” atau lebih tepat diterjemahkan “Aku Adalah satu-satunya jalan, dan satu-satunya kebenaran dan satu-satunya kehidupan adalah salah satu perkataan Yesus yang paling dikenal oleh orang-orang Kristen.
Saya sendiri mengenal kalimat Yesus ini sekitar 23 tahun yang lalu saat seorang hamba Tuhan memberitakan injil kepada saya. Saya masih ingat pada waktu itu seorang hamba Tuhan--yang menjadi kakak rohani saya--menjelaskan bahwa saya adalah orang berdosa, bahwa orang berdosa haruslah dihukum dan hukumannya adalah binasa di neraka, lalu ia bertanya apakah saya mau masuk neraka? Saya pun menjawab “tidak,” lalu ia bertanya bagaimana supaya kita tidak masuk neraka dan tidak dihukum Tuhan, maka ia menjelaskan “satu-satunya jalan adalah kamu mesti percaya Yesus sebab tidak ada seorang pun datang kepada Bapa artinya masuk sorga, jika ia tidak datang melalui Yesus.” Saya diminta untuk membaca Yohanes 14:6, seingat saya dalam momen itulah saya kemudian menerima Yesus.
Saya sangat yakin, ada banyak orang Kristen yang seperti saya, yang mengenal atau mengerti perkataan Yesus dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup,” dalam konteks atau kerangka bagaimana supaya manusia luput dari penghukuman Tuhan.
Persoalannya adalah jika kita membaca Yohanes ps. 14 mulai ayat 1 sampai 14, di sana ternyata kita tidak mendapatkan indikasi sedikit pun bahwa Yesus sedang mengucapkan perkataan “Aku adalah satu-satunya jalan, dan satu-satunya Kebenaran dan satu-satunya kehidupan,” yang merupakan perkataan ke-enam dari 7 ucapan Akulah ini, dalam konteks menghindari penghukuman neraka.
Sewaktu saya mempersiapkan kotbah ini, saya teringat dengan seorang pakar teologi yang pernah menulis sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif. Buku ini ditulis oleh kumpulan ahli biblika dengan editor G. K. Beale dengan judul “The Right Doctrine from the Wrong Text.” Saya menjadi bertanya-tanya mungkinkah pada saat saya memahami Yohanes 14:6, bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia supaya luput dari hukuman dosa, merupakan sebuah pemahaman yang benar, yang berakar pada text yang salah, seperti judul buku yang diedit oleh G. K. Beale, “The Right Doctrine from the Wrong Text.”
Alkitab memang mengajarkan kepada kita bahwa dosa akan membawa manusia pada penghukuman, Roma 3:23 berbicara tentang hal tersebut. Kematian Yesus memang adalah kunci bagi penyelesaian dosa manusia, itu juga diajarkan Alkitab misalnya saja dalam Roma 5:10. Demikian juga dengan ajaran bahwa percaya atau iman kepada Yesus adalah kunci untuk mendapatkan hidup yang kekal, hal ini pun jelas diajarkan Alkitab contohnya dalam Yohanes 3:16. Meskipun demikian, apakah perkataan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” yang dipahami dalam konteks kelepasan manusia dari penghukuman neraka dibicarakan sesuai dengan konteksnya? Perkataan “Aku adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya hidup” jelas ada dalam Alkitab, namun apakah waktu Yesus menyampaikan perkataan ini, konteksnya adalah berbicara tentang kelepasan manusia dari penghukuman neraka? Jawabannya adalah tidak.
Hal ini tentu membuat kita bertanya-tanya, jika Yesus mengucapkan perkataan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” bukan dalam konteks kelepasan dari hukuman neraka, jadi, bagaimana kita harus memahami Yohanes 14:6 ini?  
Jika kita membaca Yohanes 14:1-14 dengan teliti, kita pasti akan menemukan bahwa perkataan Yesus bahwa dirinya adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya kehidupan, dan tidak ada seorang pun datang kepada Allah tanpa melalui Dia, diucapkan Yesus dalam konteks menyatakan bahwa dalam diri-Nyalah manusia dapat mengenal dan bersekutu dengan benar dengan Allah.
Mengapakah Yesus berkata bahwa diri-Nya adalah satu-satunya jalan? Yesus menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya jalan sebab hanya melalui dirinyalah maka manusia dapat bertemu dengan Allah Bapa.
Perkataan Tuhan Yesus bahwa drinya adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya kehidupan diucapkan Yesus dalam rangka menjawab pertanyaan Thomas yang sedang meresponi perkataan Yesus bahwa ia akan pergi ke rumah Bapa. Thomas kemudian berkata “Tuhan kami tidak tahu kemana engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” bagi kebanyakan orang pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang mengsimbolkan kedegilan murid-murid Yesus. Namun bagi Yohanes pertanyaan Thomas sebenarnya merupakan representasi dari sebuah realita umat manusia, bahwa dalam keberdosaan kita, kita tidak mampu pergi ke tempat Bapa.
Yesus dapat pergi ke rumah Bapa sebab ia berasal dari sana, itulah sebanya Yesus menyebut Allah itu dengan sebuatan bapa-Ku. Sedangkan manusia tidak mampu datang kepada Tuhan sebab kita adalah orang berdosa. Keberdosaan kita membuat diri kita terpisah dari Allah, membuat kita tidak mungkin datang kepada Tuhan. Itulah sebabnya satu-satunya cara supaya manusia dapat datang kepada Allah, supaya murid-murid Yesus dapat bersama-sama dengan Yesus bersekutu dengan Bapa, maka Yesus harus membawa murid-muridnya. Itulah sebabnya Yesus berkata Yesus akan kembali dan membawa manusia—murid-murid-Nya--ke tampat-Nya, tempat Bapa.
Jadi, perkataan Akulah satu-satunya jalan, menunjuk kepada sebuah kebenaran bahwa hanya Yesuslah yang mampu membawa manusia untuk sampai ke rumah (tempat) Bapa, hanya melalui Yesuslah manusia dapat bertemu dan bersekutu dengan Bapa serta Kristus secara sempurna. Dan Yesus berjanji, kelak saat Ia datang yang kedua kalinya maka ia akan membawa kita, murid-murid-Nya, untuk memasuki persekutuan yang indah dengan Bapa dan Kristus secara sempurna. Jadi, Yesus menyebut dirinya sebagai satu-satunya jalan sebab hanya melalui dirinyalah, maka manusia kelak akan dapat kembali bertemu dan bersekutu dengan Allah Bapa dan Kristus dalam sebuah hubungan yang sempurna.
Lalu apakah artinya saat Yesus berkata bahwa dirinya adalah satu-satunya kebenaran? Yesus menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya kebenaran sebab hanya melalui dirinyalah, maksudnya melaui Yesus, maka manusia akan benar-benar memahami seperti apakah Bapa itu.
Dalam Yohanes 14: 8-9 Filipus minta supaya Yesus menunjukan Bapa itu kepada dia. Dan dalam ayat 9-11 Yesus menegaskan bahwa dalam diri-Nyalah Bapa itu diperlihatkan. Saat murid-murid melihat Yesus, seharusnya mereka menyadari bahwa mereka sedang melihat Allah Bapa, sebab dalam Yesuslah pribadi Bapa menjadi nyata.
Hal ini pararel dengan apa yang dikatakan Yohanes dalam Yohanes 1:17-18 “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebernaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi anak tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya. Kasih karunia dan Kebenaran apakah yang datang melalui Yesus? Jawabannya adalah kasih dan kebenaran tentang Allah Bapa, hal itulah yang dinyatakan atau diperlihatkan dalam pribadi Yesus.
Dalam diri Yesuslah Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Dalam diri Yesuslah Allah yang penuh kasih diperlihatkan atau dibuktikan kasih-Nya, saat Yesus mati di atas kayu salib. Dalam air mata Kristuslah kita melihat air mata Allah saat melihat begitu banyak orang yang tidak mau bertobat dan menerima anugerah keselamatan yang sejati. Dalam kemarahan Kristus-lah kita melihat kemarahan Allah terhadap segala macam perbuatan dosa.
Jadi, waktu Tuhan Yesus berkata Aku adalah satu-satunya jalan, aku adalah satu-satunya kebenaran, maka yang dimaksudkan dengan satu-satunya kebenaran menunjuk pada jati diri Yesus sebagai satu-satunya pribadi yang memperlihatkan secara sempurna seperti apakah pribadi Allah Bapa itu
Yesus juga menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan, apakah arti dari perkataan ini? Mengapakah Yesus berkata bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan? Yesus berkata demikian sebab hanya Dialah yang mampu memberikan kepada manusia kehidupan yang sejati. Melalui iman kepada Yesus maka manusia akan menemukan apa artinya kehidupan yang sejati, sebuah kehidupan yang berbahagia, yang diperoleh manusia karena adanya hubungan yang dipulihkan, hubungan yang benar dengan Allah Bapa.
Sewaktu Yesus berkata bahwa dirinya adalah satu-satunya jalan, maka murid-murid diingatkan bahwa melalui Yesus, kelak manusia akan dibawa kepada sebuah persekutuan yang indah dengan Bapa dan Kristus. Demikian juga sewaktu Yesus berkata bahwa ia adalah satu-satunya kebenaran, ia memperlihatkan bahwa dalam diri-Nyalah pribadi Allah itu menjadi nyata. Dan sekarang Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan, artinya dirinyalah pemberi kehidupan yang sejati, kehidupan yang diperoleh melalui persekutuan yang indah dengan Allah Bapa dalam Kristus.
Jika kita membaca Yohanes 17:3, kita akan menemukan bahwa hidup yang kekal dipahami sebagai sebuah kehidupan yang bersumber pada pemulihan hubungan manusia dengan Allah. Dalam Yohanes 17:3 dituliskan “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Jadi, Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan, sebab hanya melalui diri-Nyalah manusia akan memperoleh sebuah kehidupan yang sejati, kehidupan yang berbahagia, yang bersumber pada hubungan yang indah dengan Allah Bapa dalam Kristus.
Demikian juga dengan perkataan “tidak ada seorang pun yang datang kepada bapa, jika tidak melalui Aku,” haruslah kita pahami dalam konteks hubungan manusia dengan Allah Bapa. Melalui perkataan ini, Yesus hendak menegaskan ulang apa yang dikatakan sebelumnya dalam kalimat negatif bahwa manusia tidak dapat bertemu dengan Allah Bapa, tidak dapat melihat dan mengerti Allah Bapa, dan tidak dapat bersekutu dengan Allah Bapa, jika ia tidak percaya kepada Yesus. Mengapa demikian? Sebab hanya Yesuslah yang dapat memperlihatkan kepada kita secara sempurna seperti apakah Bapa itu dan dapat membawa kita untuk memiliki sebuah hubungan atau persekutuan yang indah dengan Bapa.
Jadi siapakah Yesus itu jika demikian? Jika dalam Injil Yohanes 1:14 diperlihatkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka dalam Yohanes 14 diperlihatkan bahwa Yesus adalah manusia yang memperlihatkan Allah.
Realitas bahwa dalam Yesus, Allah rela menjadi manusia supaya manusia dapat berhubungan atau berelasi atau bersekutu Allah memperlihatkan kepada kita sebuah kebenaran bahwa pengenalan akan Allah, hubungan pribadi dengan Allah, dan persekutuan dengan Allah sangatlah penting bahkan berharga.
Jika kita mencoba untuk bertanya, hal apakah yang manusia akan dapatkan atau peroleh saat kita percaya kepada Yesus? Maka Injil Yohanes akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban “manusia akan memiliki pengenalan yang benar akan Allah dan persekutuan yang hidup dengan-Nya, saat kita percaya kepada Yesus.”
Jika kita membaca surat-surat Paulus, kita akan menemukan bahwa Paulus mengajarkan bahwa keselamatan adalah karya Allah dalam Kristus yang melepaskan manusia dari perbudakan dosa. Namun, jika kita membaca injil Yohanes, Yohanes memperlihatkan keselamatan dari aspek yang berbeda. Yohanes memandang keselamatan sebagai karya Allah dalam Kristus yang memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Inilah berita injil, kabar gembira versi injil Yohanes yang harus kita pahami dengan benar saat kita mengambil keputusan untuk percaya pada Yesus.
Sewaktu mempersiapkan kotbah ini saya bertanya-tanya, mengapakah Yesus tidak mengkaitkan perkataan Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup ini dengan persoalan penghukuman neraka? Alasannya saya kira adalah sebab Ia tidak ingin kita percaya kepada Dia hanya gara-gara takut dihukum. Ia ingin kita percaya kepada Dia karena kita mengerti bahwa ia adalah Allah sendiri, juga karena Ia ingin supaya kita percaya kepada Dia, karena kita rindu untuk memiliki persekutuan yang indah dengan Bapa dalam Kristus.
Inilah kebenaran pertama yang saya ingin ajak jemaat pikirkan. Yesus datang ke dalam dunia supaya manusia dapat kembali bersekutu dengan Allah dalam Dia, itulah sebab setiap orang yang percaya kepada Yesus hendaknya memiliki kerinduan yang sama dengan Allah, memiliki sebuah kerinduan yang mendalam untuk mau bersekutu dengan Allah dalam Kristus.
Jemaat sekalian, saya yakin, dalam keberdosaannya manusia tidak dapat menerima bahwa persekutuan yang indah dengan Allah dapat memberikan sumber kebahagiaan yang sejati. Bagi manusia, menjadi kaya, hidup enak dan nyaman, tidak pernah sakit, memiliki keluarga yang berhasil, itulah hal-hal yang disebut kebahagiaan. Meskipun demikian sebagai orang yang benar-benar percaya kepada Yesus, kita pasti telah mengalami apa artinya memiliki kehidupan yang berbahagia karena kita memiliki hubungan yang indah dengan Tuhan.
Raja Daud, dalam Mazmur 84:10 mengatakan “…lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik… .” Perkataan Raja Daud ini mencerminkan seseorang yang mengalami kebahagiaan hidup yang lahir dari sebuah hubungan pribadi dengan Tuhan yang indah. Dalam dunia ini ada banyak tempat yang indah dan memberikan kebahagiaan, namun Daud memandang kebahagiaan yang lahir dari hadirat Tuhan tidak sebanding dengan kebahagian lainnya.
Rasul Paulus adalah seorang yang memiliki hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Hubungan pribadinya dengan Tuhan membuat Rasul Paulus peka sekali terhadap pimpinan Tuhan bahkan menguatkan Dia saat ia harus mengalami kesulitan-kesulitan hidup. Bahkan saat Rasul Paulus menghadapi yang namanya “duri dalam daging,” ia tetap dapat bersuka cita atasnya. Sikap Paulus ini bersumber dari hubungan pribadinya yang dekat dengan Tuhan yang membuatnya mengerti apa rencana Tuhan dalam kehidupannya.
Bagaimana dengan anda dan saya, apakah kita sudah seperti Daud dan Paulus, yang mengalami apa artinya pemulihan hubungan pribadi dengan Tuhan? Apa artinya memiliki kehidupan yang berbahagia yang lahir dari persekutuan pribadi dengan Tuhan? Jika kita tidak mengalaminya, itu berarti ada sesuatu yang salah dengan pengikutan kita pada Kristus.
Hal-hal yang salah apakah yang dapat membuat kita tidak bertumbuh dan tidak menikmati pemulihan hubungan dengan Tuhan. Pertama, saat kita percaya Yesus, kita barangkali memiliki konsep yang salah tentang keselamatan sehingga kita mengharapkan apa yang tidak pernah Alkitab janjikan. Saat kita percaya Yesus, kita barangkali tidak sadar bahwa kita percaya Yesus supaya kita dilepaskan dari perbudakan dosa dan dipersatukan dengan Allah dalam sebuah persekutuan yang indah. Karena kita tidak memahami tujuan dari keselamatan dengan benar, akhirnya kita tidak dapat menikmati apa artinya diselamatkan. Kedua, ada dosa tertentu yang kita belum selesaikan yang mempengaruhi hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Jemaat sekalian, dosa itu punya dampak yang hebat, yang pertama kali dirusak dosa dari kita selalu adalah hubungan pribadi dengan tuhan. Ketiga, karena kurangnya komitmen, kurannya hasrat dan minat dalam membangun hubungan pribadi dengan Tuhan.
Dalam kehidupan ini, salah satu pertanyaan yang ingin kita ketahui dengan pasti adalah bagaimana kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan? Salah satu ciri terpenting dari orang yang telah diselamatkan adalah adanya hubungan pribadi yang baru dengan Tuhan. Ingat, keselamatan adalah pemulihan relasi manusia dengan Tuhan, dalam Yesus manusia memiliki sebuah persekutuan yang baru dengan Tuhan, itulah sebabnya orang-orang yang telah percaya Yesus, orang-orang yang berada dalam Kristus tidak bisa tidak hidupnya sekarang haruslah ada persekutuan dengan Tuhan.
Itulah sebabnya jemaat sekalian, mulai hari ini jangan lagi anggap remeh hubungan pribadi dengan Tuhan, ingat hubungan pribadi dengan Tuhan adalah ciri dari kesejatian iman kita pada Yesus. Jika kita benar-benar adalah orang yang telah diselematkan, maka hubungan pribadi dengan Tuhan itu akan nampak dalam keseharian kita.
Bertekunlah setiap hari dalam doa dan mempelajari Firman Tuhan, mengapa demikian? Sebab melalui doa dan mempelajari Firman Tuhanlah, kita membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Sudah berapa lamakah anda tidak berdoa? Sudah berapa lamakah anda tidak membaca Firman Tuhan? Sudah berapa lamakah keluarga anda tidak bersekutu dalam Tuhan? Hari ini perbaikilah hubungan pribadi kita dengan Tuhan.
Perkataan Yesus “Akulah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya kehidupan,” memperlihatkan kerinduan Allah bagi kita supaya manusia mau kembali dan bersekutu dengan-Nya.  Itulah sebabnya ia rela datang ke dalam dunia dan mati bagi dosa-dosa kita supaya tidak ada lagi penghalang bagi manusia untuk dapat datang dan bersekutu dengan Allah Bapa, namun apakah kerinduan yang sama ada pada kita? Adakah kerinduan yang mendalam dan berkobar-kobar dalam diri kita untuk datang dan bersekutu dengan-Nya?

Minggu, 10 November 2013

BAHAYA DARI PERKATAAN YANG MERUSAK

“Orang jahat terjerat oleh oleh pelanggaran bibirnya, tetapi orang benar dapat keluar dari kesukaran. Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada apa yang dikerjakan tangannya.” Amsal 12:13-14

Jika anda adalah seorang ayah atau ibu yang anaknya akan mengambil studi di luar negri katakanlah di negri yang sangat berbeda dengan negri kita Indonesia, misalnya di Belanda, kira-kira sebelum anak anda berangkat, apa yang anda akan lakukan? Sebagai orang tua, kita pasti akan mencari waktu untuk berbicara dengan anak kita dan memberikan nasehat-nasehat yang penting untuk dia bukan? Mungkin kita akan berkata kepada anak kita “nanti disana jangan sampe kamu ikut-ikutan dengan teman kamu yang  ngga baik; kalau diajakin mengganja, jangan ikutan. Jangan suka pergi malam-malam, dan jangan bawa pacar sering-sering ke kamar, dan jangan nginap di rumah pacar dst. Mungkin nasheat-nasehat seperti itu yang akan kita sampaikan.

Hal yang mirip juga dilakukan oleh seorang pimpinan seminari (rector) sebelum ia mengutus mahasiswanya untuk menjalani praktek pelayanan.” Sewaktu saya di seminary, setiap tahun para mahasiswa biasanya akan menjalani program praktek pelayanan baik itu 2 bulan ataupun 1 tahun. Sebelum para mahasiswa diutus untuk melayani di gereja-gereja, pimpinan seminary (rector) biasanya suka memberikan pesan-pesan atau nasehat-nasehat kepada mahasiswa. Mahasiswa biasanya diminta untuk tidak ikutan dalam pertengaran yang ada dalam gereja tersebut, jika memang hal itu ada. Mahasiswa juga dilarang keras untuk mengkritik baik pemimpin jemaat ataupun gereja tempat ia praktek; itulah sebabnya jika mahasiswa praktek ditanya mengenai kesan dan pesan, selalu jawabannya bagus-bagus. Yang ketiga, mahasiswa dilarang meminta uang kepada siapapun bahkan saat gereja kelupaan memberikan uang honorarium kepada mereka; makanya sekolah biasanya memberikan kepada mereka pinjaman uang dulu supaya saat kekurangan mereka tidak perlu minta-minta uang ke gereja ataupun mati kelaparan.

Kitab Amsal dituliskan dengan kerangka yang sama; kitab ini ditulisakan untuk memberikan nasehat-nasehat yang dibutuhkan oleh seorang muda sebelum ia benar-benar memasuki “dunia nyata” dalam hidupnya. Dalam kehidupan bangsa Yahudi, ada waktunya seseorang itu memasuki fase-fase belajar, disana ada seorang guru yang dipersiapkan untuk mengajari dan mendampingi mereka. Namun, akan ada waktunya dimana seorang anak menjadi dewasa dan setelah ia menjadi dewasa, maka ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala tanggung jawabnya. Kitab Amsal adalah nasehat-nasehat terakhir yang diberikan untuk mempersiapkan seorang muda sebelum ia memasuki dunianya sendiri.

Salah satu hal penting bagi penulis amsal yang perlu seorang muda pahami sebelum ia memasuki “kehidupan nyatanya” adalah mengenai bahaya perkataan-perkataan yang tidak benar dan jahat.
Mengapa kita harus mengontrol perkataan kita? Mengapa kita harus memiliki perkataan-perkataan yang benar? Mengapa kita tidak boleh mengeluarkan apalagi memelihara perkataan-perkataan yang jahat dan tidak benar? Ada tiga alasan yang diperlihatkan oleh penulis kitab Amsal; kita akan pelajari satu per satu.

1.       Sebab perkataan yang tidak benar/jahat akan menjerat diri kita sendiri.
Amsal 12:13 mengatakan “orang jahat terjerat oleh pelanggaran bibirnya” atau dapat juga diterjemahkan “orang jahat terjerat oleh “bibirnya yang pernuh pelanggaran.” Bibir atau mulut yang penuh pelanggaran membawa manusia pada jerat yang menjatuhkan dirinya sendiri. Omongan kita yang tidak benar dan jahat akan membawa kita pada kejatuhan diri kita sendiri.

Istilah “terjerat” yang digunakan oleh LAI, dalam bahasa ibraninya ada kaitannya dengan gagasan kail yang biasa digunakan saat seseorang memancing. Gagasan ini digunakan untuk menegaskan bahwa mulut yang penuh dengan pelanggaran akan membawa kita kepada kondisi seperti ikan yang terkena kail; artinya apa? Membawa kita kepada kejatuhan yang serius.

Sebelum kita lebih lanjut memikirkan hal ini; mari kita memikirkan “seperti apakah yang disebut ‘perkataan yang jahat atau tidak benar itu”? Ada banyak perkataan yang dapat dikategorikan sebagai perkataan tidak benar dan jahat;  dua diantaranya adalah perkataan-perkataan yang keras/kejam dan perkataan yang menipu.

Seperti apakah perkataan yang keras dan kejam itu? Saya akan berikan 2 contoh yakni (i) kritik; (ii) makian. Pernahkah kita menerima kritikan yang tajam? Gimana rasanya? Atau pernahkah kita mengkritik orang lain secara tajam? Gimana reaksi orang yang kita kritik? Pernahkan kita dimaki orang? Atau pernah kita memaki orang lain? Bagaimana rasanya? Sakit bukan.

Saya pernah mendengar kisah seorang pengurus gereja yang sampai tidak mau lagi terlibat barang satu perlayanan pun karena ia merasa sangat terluka dengan sikap orang-orang dalam gereja; saat ia mengerjakan tugas pelayanannya, kemudian terjadi satu dua kesalahan, kemudian orang-orang dalam gereja mengkritikinya secara tajam, orang tidak mau lihat hal yang positif, namun cuma menyoroti hal yang negative.
Perkataan yang menipu atau tidak benar itu seperti apa? Contoh yang paling jelas tentu saja adalah dosa bohong. Dosa ini merupakan dosa yang begitu dekat dengan kehidupan manusia termasuk dalamnya orang-orang Kristen. Dalam usaha/bisnis sering kali muncul anggapan bahwa jika kita tidak mau bohong dalam usaha, kita bisa rugi, “lebih baik tidak usah dagang jika demikian.”

Mengapa Perkataan yang tidak benar/jahat akan menjadi jerat dalam hidup kita sendiri? Ada beberapa alasan yang kita bisa lihat. Alasan yang pertama adalah sebab perkataan-perkataan yang tidak benar, yang keras, kejam itu dapat merusak relasi kita dengan orang lain

Ada sebuah keluarga yang nyaris bercerai; kemudian saat diberikan proses konseling; akhirnya terbukalah akar persoalan dalam rumah tangga tersebut dimana hubungan suami istri dalam keluarga tersebut menjadi rusak berawal dari perkataan suaminya kepada istrinya saat bertengkar “dasar perempuan tidak berguna.” Mungkin suaminya sudah melupakan perkataan keras yang dilontarkannya kepada istrinya, namun dampak dari perkataan tersebut melukai hati sang istri hingga bertahun-tahun. Coba lihat dampak dari perkataan kejam yang dapat merusak relasi kita.

Alasan yang kedua adalah sebab perkataan-perkataan yang kejam, kasar ata tidak benar dapat merusak baik diri kita sendiri maupun masa depan kita. Sebagai contoh; saya pernah mendatangi sebuah bengkel mabel untuk membeli lemari; pada waktu itu, si penjual meminta uangnya dibayarkan seluruhnya di muka; oleh karena tidak ada kecurigaan apapun, akhirnya saya memberikan semua biaya untuk lemari tersebut. Satu minggi kemudian saat saya mendatangi penjula tersebut, ia berkata bahwa barangnya belum selesai; minggu depannya lagi ia berkata bahwa bahan bakunya tidak ada; minggu depannya lagi ia berdalih dengan alasan yang lainnya lagi. Saya sadar bahwa saya telah kena tipu; lalu saya berkata dalam hati “ngga apa-apa, kamu menipu saya, tetapi saya tidak akan pernah membeli apapun di tempat dia.” Coba lihat, bukankah perkataan yang tidak benar telah merusak reputasi dari orang tersebut dan merusak sendiri masa depannya. Itulah danpak yang merusak dari perkataan yang tidak benar.

2.       Sebab ada konsekuensi dari setiap perkataan yang kita gunakan entah itu benar ataupun jahat.
Dalam Amsal 12:14 dituliskan “orang Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan (seperti) orang mendapat balasan dari pada apa yang dikerjakan tangannya.” Penulis kitab Amsal sedang berbicara mengenai hukum tabur tuai; apa yang seseorang tanam, hal tersebut pasti ia akan tuai. Sama seperti jika seseorang bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab, maka ia akan menuai hasil pekerjaan yang memuaskan; demikianlah juga dengan perkataan. Jika kita menggunakan perkataan-perkataan yang baik dan benar, kita tidak mengeluarkan dan tidak memelihara perkataan-perkataan yang jahat, kejam, dan menipu dalam mulut kita, maka hal-hal yang baik itu akan kita dapatkan sebagai hasilnya atau buahnya. Namun sebalknya, jika perkataan kita adalah jahat, kejam, menipu, dan tidak benar, kita akan menuai juga konsekuensinya.

Tadi kita sudah membahas mengenai berbagai konsekuensi dari perkataan jahat/tidak benar yang akan berdampak dalam hidup kita. Perkataan yang jahat, kejam, menipu dapat merusak relasi kita dengan orang, merusak masa depan kita bahkan merusak kredibiltas diri kita sendiri. Meskipun demikian, kita harus tahu bahwa Alkitab ternyata memperlihatkan bahwa konsekuensi dari perkataan jahat/tidak benar bukan hanya ada saat kita hidup dalam dunia ini; konsekuensi itu bahkan harus kita tanggung setelah kita melewati dunia ini.

Mari kita lihat apa yang Tuhan Yesus katakana kepada kita dalam Matius 12:36-37:  “setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pun engkau akan dihukum.” Lihat apa yang Yesus tegaskan, “setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkan di hari penghakiman.” Itu berarti (i) Ada yang namanya hari penghakiman; sungguh bodoh kita jika menyangka bahwa hidup kita cuma ada dalam dunia ini sebab sesungguhnya ada hidup yang lain yang harus dijalani dalam kekekalan setelah kita melewati “hari penghakiman.” (ii) Di hari penghakiman, setiap kita harus memberikan pertangungjawaban. (iii) Salah satu hal yang harus kita pertanggung jawabkan dihari penghakiman adalah “setiap kata-kata” yang kita ucapkan yang sia-sia, yang hampa, yang tidak bernilai, yang kejam, yang merusak orang lain, yang menipu, yang porno dst.

Jadi, jika kita selama kita mengatakan hal-hal yang kejam terhadap sesama kita; kita kritik sesama kita tanpa memperhitungkan perasaan mereka, atau kita menuduh orang lain misalnya saja pasangan kita sebagai orang yang “tidak bertanggung jawab” saat ia melakukan kesalahan yang sebenarnya kecil saja; atau kita maki-maki bawahan kita karena kerjanya tidak memuaskan kita; maka SEMUA PERKATAAN TERSEBUT DICATAT OLEH TUHAN DAN HARUS KITA PERTANGGUNG JAWABKAN DI HARI PENGHAKIMAN. Sama dengan hal itu, jika kita suka menjelek-jelekan orang lain, kita suka bergossip saat ada orang yang terkena satu masalah, kita menggunakan kebohongan dalam usaha atau bisnis kita; kita fitnah orang lain, maka CAMKAN INI, SEMUA ITU AKAN ANDA BAWA SAMPAI HARI PENGHAKIMAN.

3.       Alasan ketiga, mengapa kita tidak boleh mengeluarkan atau memeliharakan perkataan-perkataan yang jahat atau tidak benar adalah sebab perkataan kita mencerminkan siapa diri kita.
Coba perhatikan lagi apa yang dikatakan oleh penulis Amsal dalam ps 12:13 “Orang jahat terjerat oleh oleh bibirnya yang penuh pelanggaran,” atau “orang jahat terjerat dengan bibirnya yang jahat.” Jadi, bibir yang jahat merupakan ciri/karakter dari orang jahat. Jadi, apa yang kita keluarga dari mulut kita sesungguhnya mencerminkan isi hati kita; apa yang keluar dari mulut kita merepresentasikan kualitas dari hati dan hidup kita.

Masih ingat dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 12:37 yang tadi kita baca? Yesus berkata ““setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pun engkau akan dihukum.”

Kalimat terakhir yang Yesus katakan, menarik perhatian saya, mengapa Yesus berkata “menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pun engkau akan dihukum?” Bukankah manusia diselamatkan ataukah tidak berdasarkan imannya apakah ia percaya Tuhan ataukah tidak, mengapa sekarang Yesus berkata bahwa manusia dihukum berdasarkan perkataannya?

Jawabannya adalah sebab perkataan itu mencerminkan/merepresentasikan siapa diri kita sebenarnya. Coba lihat lebih jauh apa yang Yesus katakan dalam Matius 12:33-35. Yesus melihat bahwa perkataan seseorang itu seperti buah dari pohon; buah yang baik menunjukkan bahwa pohon tersebut baik; buah yang tidak baik menunjukkan bahwa pohon tersebut tidak baik; perkataan yang benar dan memuliakan Tuhan keluar dari mulut dan hidup yang yang benar; sedangkan perkataan yang jahat, kejam, menipu keluar dari orang yang hidupnya memang jahat, kejam, suka menipu alias tidak percaya kepada Kristus.

Jadi, masalah dari perkataan yang jahat, kejam, tidak benar bukan sekedar lahir dari kebiasaan, namun karena natur kita yang pada dasarnya adalah jahat, kejam, dan suka menipu. Itulah sebabnya jika anda berkata bahwa anda adalah anak Tuhan; anda adalah orang yang sudah dibenarkan, anda adalah pengikut Yesus, maka apa yang keluar dari mulut anda haruslah hal-hal yang sama dengan apa yang anda imani. Yakobus mengingatkan “tidak mungkin sumber mengeluarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama.” (Yakobus 3:10)

Jadi, jika mulut kita ini selalu dipenuhi dengan kejahatan; orang Kristen sejati bisa jatuh dalam dosa perkataan, namun ia tidak selalu jatuh dalam dosa perkataan; itulah sebabnya jika mulut kita ini selalu negative, yang ada selalu cuma kritikan, keluhan, kemarahan, kekerasan, kekejaman dan kebohongan, itu semua menunjukkan bahwa anda belum mengalami pertobatan sejati. Mulut anda adalah bukti nyata bahwa anda masih orang yang berada dibawah kuasa dosa dengan natur hidup anda yang lama. Anda butuh keselamatan.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita bisa memiiki perkataan yang benar? Bagaimana kita bisa berubah?
1.       Anda perlu kelahiran baru
Kualitas perkataan bukanlah persoalan komunikasi, namun persoalan natur; kecuali natur kita diubahkan maka perkataan kita tidak mungkin berubah. Kita mungkin bisa membatasi perkataan kita atau kita mungkin dapat menjadi orang yang “ngirit ngomong,” namun tidak berarti kualitas perkataan kita dapat berubah menjadi baik.

Perkataan itu ada yang dikeluarkan lewat mulut namun ada juga yang tidak; orang yang ngirit ngomong atau dapat menahan diri untuk tidak cepat ngomong mungkin tidak kelihatan bahwa ia memiliki banyak perkataan jahat; namun hal tersebut tidak berarti dalam pikirannya tidak keluar perkataan-perkataan jahat.

Saat kita di kritik kita mungkin bisa berpura-pura tabah dan tetap tersenyum seolah-olah kita kuat, namun bukankah dalam pikiran kita sebenarnya ada pemberontakan; melalui pikiran kita, kita berkata “dasar kurang ajar nih orang berani-beraninya kritik saya, awas nanti, kalau ada kesempatan gua balas kamu.”

Manusia itu tidak bisa berubah dari dirinya sendiri, satu-satunya cara manusia dapat berubah adalah jika natur kita diubahkan, itulah sebabnya kita perlu dilahirkan kembali. Jadi, fakta bagaimana kita selalu berkata-kata yang jahat dan menyakitkan orang lain, tidak pernah bisa berubah, menunjukkan anda adalah seorang yang masih bernaturkan dosa, dan anda perlu anugerah Tuhan untuk mengalami kelahiran kembali.

Mungkin ada berkata “pendeta, saya ini sudah lahir baru, saya sudah percaya Yesus dengan sungguh-sungguh, namun saya masih sering jatuh dalam perkataan-perkataan yang salah; mengapa demikian?” maka ada aspek kedua yang tidak kalah penting dalam proses pembaharuan hidup kita termasuk salah satunya adalah pembaharuan perkataan, apakah itu? Pembaharuan pikiran

2.       Manusia perlu mengalami bukan hanya lahir baru, namun juga pembaharuan pemikiran
Apa yang kita katakan sangat erat kaitannya dengan apa yang kita pikirkan. Apa yang kita isi dalam kepala kita menentukan apa yang akan keluar dari mulut kita. Pernah tidak anda mengalami bagaimana pola makan anda mempengaruhi kualitas kesehatan anda. Apakah yang akan terjadi jika kita setiap hari memakan makanan dengan kalori yang sangat tinggi, misalnya saja setiap hari kita makan paket Burger dengan minuman bersoda dalamnya, bukankah yang terjadi adalah kita menjadi kelebihan berat badan dan obesitas; dan ketika kita mengalami hal tersebut bukankah kita kemudian jadi rentan terhadap penyakit. Hal yang sama dengan itu, demikian juga demikian pikiran kita, apa yang kita masukkan dalam pikiran kita akan membawa dampak pada apa yang akan keluar dari mulut kita yakni perkataan-perkataan kita.

Itulah sebabnya Paulus menegaskan bahwa kunci untuk “tidak menjadi sama dengan dunia ini adalah ‘mengalami pembaharuan pikiran.’” Pembaharuan pikiran melibatkan belajar firman Tuhan; masalahnya adalah: (i) Banyak orang merasa bahwa belajar firman Tuhan itu tidak penting atau tidak sepenting nyari uang. Padahal Tuhan Yesus berkata “manusia hidup bukan dari roti saja, namun dari Firman Tuhan,” tetapi kita tidak percaya dengan apa yang Tuhan katakan; (ii) banyak orang malas belajar firman Tuhan;  (iii) banyak orang tidak tekun dalam belajar firman Tuhan.

Jika kita merasa tidak penting untuk belajar firman Tuhan, malas dalam belajar firman Tuhan, dan tidak tekun dalam belajar firman Tuhan makanya tidak heran kita jadi orang Kristen yang tidak mempunyai kualitas.
3.       Manusia perlu disiplin
Inilah kunci dari pada kitab Amsal “disiplin.” Tidak ada keberhasilan tanpa disiplin; tidak ada yang namanya “pertumbuhan instan” dan tidak ada yang namanya “kedewasaan dalam sekejap mata,” semua membutuhkan yang namanya proses belajar yang harus dijalani dengan ketekunan.

Coba anda pikirkan, apa jadinya jika anda membangun sebuah rumah dengan terburu-buru. Bisakah kita membangun sebuah rumah yang bagus dengan cepat? Tidak bisa bukan; hal yang sama dengan bangunan hidup kita, untuk menjadi seseorang yang benar-benar hidupnya berbuah, butuh proses yang lama bahkan tidak mudah dan menyakitkan.

Disiplin dibutuhkan dalam proses pembelajaran kita untuk membenahi perkataan kita; ada kalanya kita jatuh dalam perkataan yang tidak benar bahkan jahat, jangan menyerah belajar lagi untuk menjadi lebih baik lagi.

Satu pagi saya membaca kitab Yakobus mengenai bahaya dari lidah; uniknya adalah di hari itu justru saya menggunakan lidah saya dengan cara yang salah dan saya hari itu belajar secara langsung apa dampaknya ketika saya tidak kekang lidah saya dengan benar. Saya jatuh dalam dosa lidah hari itu, namun saya coba bangkit lagi, belajar lagi dari kesalahan, dan terus berusaha untuk lebih baik lagi; inilah disiplin.

Jadi, saat kita melihat diri kita jatuh dalam perkataan yang salah, buruan minta ampun dan bereskan. Sebaliknya, jika kita melihat pasangan kita atau rekan kita jatuh dalam perkataan yang salah, buruan ampuni, beresakan dan berikan kesempatan bagi dia untuk berubah.
Penutup
Ada seorang pemudi yang mengalami ganggunan kepribadian; walaupun ia adalah seorang yang memiliki penampilan yang manarik, namun ia tidak pernah bisa dekat dengan orang lain; ia sering dianggap anti-sosial. Pemudi ini tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi demikian; ia kemudian mendatangi seorang konselor untuk membantunya memahami akar persoalan dirinya. Lalu si konselor menggunakan metode terapi alam bawah sadar untuk mencoba menggali masa lalu dari pemudi ini; dalam salah satu sesi konseling, alam bawah sadar di pemudi di bawa ke masa lalu, kemudian tiba-tiba suara si pemudi ini berubah mirip seperti ketika anak-anak; si pemudi ini berkata “mami-mami, kenapa kamu berkata “aku anak haram.” Rupanya hal itulah yang selama ini merusak kepribadian si anak ini; perkataan dari ibunya saat ia kecil; mungkin si ibu sedang emosi dan marah kepada suaminya dan melampiaskan kemarahan kepada anaknya dan berkata “dasar kamu anak haram.” Mungkin ibunya sudah lupa dengan apa yang dia katakan, namun perkataan kejam yang diterima anak ini membekas dalam hidupnya meninggalkan sebuah luka yang mempengaruhi anak ini selama bertahun-tahun bahkan hingga ini dewasa.

Adakah diantara anda  yang pernah mengalami seperti anak ini, ada perkataan-perkataan yang kejam yang anda terima dalam hidup anda; mungkin itu dari orang tua anda; mungkin itu dari pasangan anda, mungkin itu dari suami atau istri anda, mungkin itu dari rekan kerja anda atau atasan anda; mungkin itu dari sesama jemaat di gereja anda, mungkin itu dari teman sekolah anda. Tahukah anda “kekejaman yang anda rasakan dan simpan membuat anda lama kelamaan menjadi orang kejam.” Jika kita mengalami hal yang seperti ini, inilah waktunya bagi anda untuk datang pada Yesus, pandanglah wajahnya dan rasakan kasihnya. Hanya Kristus yang dapat menyembuhkan dan memulihkan kita.

Adakah diantara anda yang seperti ibu tadi, yang tanpa sengaja telah mengeluarkan perkataan-perkataan yang kejam yang telah menghancurkan, merusak orang lain. Anda tahu itu, namun anda tidak mau menyelesaikan hal itu. Bereskan hal tersebut hari ini; minta ampun pada Tuhan dan sepulang dari tempat ini, minta maaf kepadanya.



Minggu, 03 November 2013

Bertemu Tuhan Dalam Nyanyian


               Tema kita hari ini menarik untuk dipikirkan. “Bertemu Tuhan dalam Nyanyian.” Biasanya saat kita berbicara mengenai bagaimana cara kita bertemu Tuhan? Pada umumnya kita akan mengatakan bahwa pertemuan dengan Tuhan itu melalui pemberitaan Firman Tuhan atau melalui doa. Pertanyaannya adalah bisakah sebuah nyanyian itu membawa kita untuk bertemu dengan Tuhan?
                Tentu untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat dalam Alkitab apakah sebuah nyanyian pujian dapat digunakan sebagai sarana perjumpaan pribadi dengan Tuhan? Bacalah Ulangan 31:14-22
Dalam bagian Alkitab yang kita baca, kita melihat bahwa Tuhan menggunakan nyanyian untuk mengajar bangsa Israel. Cara Tuhan mengajar itu sangat kreatif, ada berbagai cara yang Tuhan gunakan.Tuhan terkadang mengajar umat Tuhan secara langsung; Tuhan panggil seorang Nabi, misalnya saja Yesaya, Tuhan berfirman kepada Yesaua dan yesaya menyampaikan secara langsung pesan Tuhan kepada umat Tuhan. Namun, Tuhan ternyata tidak hanya berbicara secara langung melalui mulut seorang nabi. Dalam PL, kita pasti pernah membaca kisah mengenai Nabi Hosea yang disuruh Tuhan untuk menikahi seorang perempuan yang tidak setia yang bernama Gomer. Pernikahan Hosea dan Gomer adalah sebuah alat peraga yang Tuhan gunakan untuk mengajar orang Israel megenai hubungan Tuhan dengan umat Israel. Hosea yang diminta untuk tetap setiap kepada istrinya adalah gambaran dari Tuhan, dan gomer yang selalu tidak setia adalah gambaran dari bangsa Israel. Kisah hubungan Hosea dan Gomer dijadikan drama kehidupan yang mencerminkan hubungan TUhan dan bngsa Israel.
Kita juga pasti pernah membaca kisah Yunus yang diajar Tuhan melalui sebuah pohon jarak, yang pada awalnya membuat yunus senang karena menudunginya saat kepanasan, namun kemudian membuat Yunus marah karena pohon itu mati; dan Tuhan mengajar Yunus, jika Yunus saja sayang dengan pohon, bagaimana Tuhan bisa tidak sayang dengan ribuan orang di kota Niniwe yang hidupnya jauh dari Tuhan. Diantara sekian banyak cara yang Tuhan gunakan untuk mengajar bangsa Isreal, Tuhan juga ternyata menggunakan nyanyian sebagai cara dia menggajar umat Tuhan.
Itulah yang kita baca dalam Ulangan 31:19 dan 22 “Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel. … Maka Musa menuliskan nyanyian ini dan mengajarkannya kepada orang Israel. Pada saat Musa sudah waktunya meninggal dunia, maka Tuhan ingin Musa menyampaikan pesan-pesan terakhirnya. Apakah pesan terakhir dari Tuhan melalui Musa? Lihat ayat 16-18.
Tuhan ingin bangsa Israel tahu bahwa mereka akan melawan Tuhan di masa yang akan datang (ay. 16) dan saat mereka melawan Tuhan maka Tuhan akan menghukum mereka dengan berbagai kesusahan (ay. 17) dan hal tersebut dibuat Tuhan supaya mereka mengerti bahwa dosa mereka telah membuat Tuhan berpaling dari mereka (ay. 17-18). Cara yang Tuhan inginkan supaya Musa gunakan dalam mengajarkan hal tersebut adalah melalui menyanyikannya. Maka Musa kemudian mengajarkan bangsa Israel nyanyian mengenai pesan Tuhan kepada mereka, mengenai apa yang mereka akan alami dan sikap Tuhan saat mereka meninggalkan Tuhan.
Dengan demikian, kita melihat bahwa nyanyian yang digunakan untuk mengajar bangsa Israel sebenarnya adalah pesan Firman Tuhan sendiri. Nyanyian yang seperti ini pada dasarnya tidak beda dengan pemberitaan Firman Tuhan, nyanyia seperti ini dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Dari sinilah kita belajar bahwa nyanyian pujian ternyata bisa digunakan untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan. Jadi, Firman Tuhan bisa diajarkan baik melalui pemberitaan langsung misalnya saat firman Tuhan dikotbahkan, namun firman Tuhan juga dapat diajarkan melalui bentuk nyanyian.
Menurut saya, jika kita mau pilih lagu, pilihlah lagu yang memiliki nilai ajaran yang kuat. Jangan sekedar pilih lagu yang enak dinyanyikan, namun muatan ajarannya dangkal. Mengapa demikian? Sebab nyanyian adalah sarana yang bisa digunakan untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan dan nyanyian yang seperti demikian dapat dipakai Tuhan sebagai sarana untuk membawa seseorang kepada pertobatan.
Kita juga belajar bahwa nyanyian pujian seharusnya merupakan perpanjangan dari pemberitaan Firman Tuhan. Itu berarti isi dari nyanyian pujian itu haruslah “pararel” dengan pesan Firman Tuhan. Jika kita memilih lagu yang akan kita nyanyikan, kita harus yakin betul bahwa isinya adalah sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan. Itu juga berarti isi dari nyanyian yang benar haruslah benar dalam syairnya.
Hal kedua yang kita bisa pelajari adalah bahwa nyanyian itu digunakan oleh Tuhan bukan untuk menggantikan Firman Tuhan namun untuk menjadi kesaksian bagi Tuhan. Dalam ayat 19 kita membaca bahwa ditegaskan oleh Tuhan bahwa nyanyian yang berisikan firman Tuhan itu akan “menjadi saksi bagiKu.” Apakah yang dimaksudkan oleh Alkitab dengan menjadi “saksi”? Dalam dunia kuno, tugas dari saksi adalah menyatakan kebenaran atau menceritakan hal yang benar; atau dapat juga dikatakan bahwa kesaksian itu tugasnya adalah meneguhkan kebenaran.
Sesuatu yang meneguhkan pada dasarnya berperan sebagai sesuatu hal yang menguatkan. Jadi sesuatu yang meneguhkan tidak dibuat untuk menjadi penganti dari yang diteguhkan. Dengan demikian, nyanyian itu fungsinya adalah meneguhkan firman Tuhan; nyanyian itu digunakan untuk menguatkan pesan Firman Tuhan.
Ada kalanya kita mendengar ada orang-orang yang ke gereja cuma mau “praise and worship” tapi tidak mau ada pemberitaan Firman Tuhan.
Dalam sebuah persekutuan kaum Muda, ada seorang pemuda yang antusias sekali dalam pelayanan. Dia ajakin teman-temannya untuk mau ikut dalam kelompok kecil yang dirintisnya. Satu kali anak muda itu datang kepada salah satu penginjil yang menjadi Pembina pemuda, lalu pemuda tersebut mensahringkan apa yang direncanakannya, Dia berkata kelompok yang akan dibangun itu adalah kelompok yang dalamnya terutama akan melakukan “praise and worship” di dalam kelompok itu, kita tidak lagi akan mempelajari Firman Tuhan, cuma shering dan nyanyi.
Ini adalah contoh dari sikap yang kebablasan dari sebagian orang Kristen. Dimana nyanyian dan pujian kepada Tuhan menggantikan pemberitaan Firman Tuhan. Hal ini tidak boleh terjadi sebab nyanyian dan pujian (yang disebut sebagai “praise and worship”) mempunyai fungsi menguatkan pemberitaan Firman Tuhan dan bukan menggantikannya. Maka berhati-hatilah; kalau kita mau membuat acara nyanyian pujian, jangan buang pemberitaan Firman Tuhan; dan jangan kurangi waktu untuk pemberitaan tersebut.
Sebenarnya nyanyian pujian dalam ibadah Kristen—menurut saya--mempunyai dua fungsi. Fungsi yang pertama terkait dengan apa yang kita bahas hari ini, yakni nyanyian pujian yang digunakan untuk meneguhkan ajaran. Fungsi yang kedua adalah menjadi ekspresi hati kita kepada Tuhan.
Jenis pujian yang seperti ini, kita akan dapati dalam kitab Mazmur. Misalnya saja dalam Mazmur 51, disana Raja Daud menggunakan sebuah nyanyian untuk mengekspresikan penyesalannya atas tindakan dia saat melakukan dosa perzinahan dengan Betseba. Jadi, sebuah lagu pujian, bukan hanya memiliki bentuk pujian pengajaran, namun pujian sebagai ekspresi hati kita kepada Tuhan.
Sebagai sebuah ekspresi hati seseorang kepada Tuhan, maka nyanyian pujian itu haruslah mewakili jiwa kita. Maka nyanyian pujian itu memang harus cocok dengan zaman kita. Kita tidak bisa memuji Tuhan dengan nyanyian yang digunakan pada tahun 1800 sebab zaman waktu itu dan zaman sekarang berbeda.
Saya mengingat ada sebuah lagu dalam KPPK yang mengunakan istilah “Yesusku mukhalisku … .” Mungkin istilah tersebut di zaman sekarang sudah tidak digunakan sehingga kalaupun kita menyanyikan lagu dengan istilah yang demikian, itu tidak bisa kita hayati dengan baik, sebab kita tidak lagi memahaminya dalam zaman kita. Meskipun demikian, pujian yang menjadi ekspresi hati bagi kita dalam menyembah Tuhan tetap harus dilakukan dengan cara yang sopan dan tidak jadi batu sandungan.
Ada satu anak muda yang kesenangannya adalah music Hard-Rock; Kemudian ayahnya melarang dia untuk terus berkecimpung dalam kesenangan terhadap music Hard-Rock tersebut. Alasan dari ayahnya adalah sebab music tersebut berakar dari ekspresi orang-orang yang frustasi dengan hidup dan memiliki jiwa memberontak. Jika apa yang dikatakan oleh bapak tadi benar, bagaimana jiwa dari music hard-rock itu adalah pemberontakan, maka tipe music yang seperti ini jelas tidak bisa digunakan sebagai ekspresi nyanyian pujian Kristen. Jadi, saat kita menggunakan sebuah pujian sebagai ekspresi dari perasaan kita kepada Tuhan, kita harus uji apakah nyanyian tersebut benar-benar netral artinya tidak menjadi batu sandungan saat kita menyanyikannya.
Menurut saya dalam sebuah ibadah yang baik, kedua jenis pujian yang kita bicarakan tadi, yakni pujian yang digunakan untuk mengajar maupun sebagai ekspresi pujian kita kepada Tuhan sama-sama diperlukan. Dalam ibadah hendaknya isinya bukan hanya ekspresi perasaan kita kepada Tuhan, namun juga butuh nyanyian yang isinya meneguhkan pengajaran Firman Tuhan. Sebaliknya dalam ibadah kita meman juga membutuhkan pujian yang dapat menjadi sarana ekspresi kita dalam menyatakan perasaan kita kepada Tuhan.