Tampilkan postingan dengan label 7 Ucapan Akulah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 7 Ucapan Akulah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 November 2013

Akulah Pintu (Yohanes 10:1-10)

Ada seorang pria namanya adalah Edy. Si Edy ini punya karakter yang agak unik, ia sering marah-marah. Karakternya yang suka marah-marah membuat teman-temannya menyebut dia sebagai Edy si pemarah. Teman-teman, julukan berfungsi untuk memperlihatkan salah satu sifat dari orang yang dibicarakan. Jika ada orang yang menulis surat kepadamu, misalnya “Jane yang baik,” maka gelar baik yang digunakan dalam sebutan itu menegaskan sifat dari si Jane yang memang sangat positif.

Jika kita memperlajari Alkitab, kita tahu bahwa tokoh-tokoh dalam Alkitab ada yang mempunyai gelar atau sebutan tertentu. Misalnya saja Musa yang disebut Alkitab sebagai orang yang paling lembut hatinya. Demikian juga dengan Yohanes yang Alkitab sebut sebagai orang tersesar dari semua orang yang pernah dilahirkan perempuan.

Tahukah kamu, siapakah dalam Alkitab yang memupunyai gelar terbanyak? Benar, orang yang mempunyai gelar terbanyak adalah Yesus. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus mempunyai banyak gelar. Ia disebut anak Daud, dia dipanggil anak Abraham, Anak Allah, Tuhan, Anak Manusia, dst. Diantara sekian banyak gelarnya, salah satu yang cukup sulit untuk dimengerti adalah sebutan Yesus sebagai “pintu.” Mari kita membaca sekali lagi Yohanes 10:9 “Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat, dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.”

Injil Yohanes adalah injil yang sangat unik, dalam injil ini ada 7 perkataan yang sering disebut dengan 7 Ucapan Akulah, dalam bahasa Yunani istilah Akulah digunakan istilah “Ego Eimi.” Selain 7 ucapan Akulah, sebenarnya dalam injil Yohanes masih ada 7 tanda dan 7 kotbah yang Yesus sampaikan. Yohanes ini senang menggunakan angka 7. Memang bagi orang Yahudi angka 7 adalah angka yang penting, angka tersebut dianggap menggambarkan kesempurnaan.

Untuk mengerti apakah maksud Yohanes menyebut Yesus dengan sebutan Akulah pintu, kita harus mengerti terlebih dahulu mengapa Yohanes dalam injilnya membicarakan mengenai 7 ucapan Akulah, 7 tanda dan 7 kotbah. Yohanes sendiri mengatakan bahwa semua yang dicantumkan dalam bukunya dituliskan supaya kita percaya bahwa Yesuslah mesias anak Allah dan supaya melalui iman kita kepadanya kita beroleh hidup yang kekal. Mari kita membaca Yohanes 20:31.

Dari pemikiran di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan logis bahwa ucapan Akulah Pintu merupakan salah satu jawaban dari injil Yohanes terhadap pertanyaan “mengapa kita harus percaya kepada Yesus?” Yohanes menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban: sebab melalui Yesus Allah sedang memimpin manusia kepada keselamatan (pintu bagi karya Allah) dan melalui Yesus pula, manusia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Allah.

Mengapa pertanyaan diatas penting? mengapa Yohanes perlu menegaskan bahwa Yesus adalah mesias? Jemaat yang dilayani oleh Yohanes adalah jemaat campuran, yakni campuran orang Yunani dan Yahudi. Mereka sulit untuk percaya Yesus, mengapa? sebab orang-orang Yahudi mengatakan Yesus itu bukanlah Allah, Yesus tidak benar-benar bangkit, mayat Yesus hilang karena dicuri murid-muridnya. Orang-orang Yunani juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab bagi mereka, Allah itu tidak mungkin jadi manusia. Yohanes ingin menjelaskan bahwa kemesianisan Yesus bukanlah kabar burung, Yesus jadi mesias bukan karena murid-muridnya mengembangkan cerita burung atau isapan jempol belaka. Keyakinan orang-orang Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan mesias bersumber dari perkataan Yesus sendiri.

Satu kali ada seorang tidak percaya berdebat dengan seorang anak Tuhan. Orang yang tidak percaya berkata “dari mana kamu tahu bahwa Yesus itu Tuhan?” apa buktinya bahwa Yesus adalah Tuhan? orang Kristen itu kemudian berkata, saya memang tidak bisa membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab jika saya bisa membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka Yesus pasti bukan Tuhan. Mengapa demikian? sebab Tuhan itu jauh lebih besar dari manusia, jika manusia bisa membuktikan Tuhan, itu berarti yang kita lebih besar dari apa yang disebut Tuhan teresebut, dan itu pasti bukan Tuhan. Namun, saya tetap percaya bahwa Yesus adalah Tuhan sebab Ia sendiri yang bilang kepada kita bahwa ia adalah Tuhan dan mesias.

Salah satu ucapan Yesus yang menegaskan jati diri Dia sebagai mesias adalah Akulah puntu. Kita tahu bahwa pintu itu punya dua fungsi. Fungsi pertama adalah jalan bagi seseorang yang ingin masuk ke dalam rumah, dan fungsi kedua adalah jalan bagi orang yang ada dalam rumah untuk keluar rumah. Yesus menyebut dirinya pintu sebab melalui dirinya Tuhan menyatakan karyanya untuk menyalamatkan manusia dan melalui diri Yesus juga manusia bertemu dengan Allah. Jadi sebutan ‘Akulah pintu” menegaskan peran Yesus yang unik yang memediasi atau menjadi mediator antara Allah dan manusia.

Dalam ayat 6, Tuhan Yesus dengan sangat jelas mengatakan bahwa apa yang dia bicarakan dalam ayat 1-5 adalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan dalam ayat 1-5 sebenarnya hendak menegaskan sebuah kebenaran bahwa seorang gembala pastilah akan datang kepada domba-dombanya melalui pintu dan bukan melompati tembok. Mengapa demikian? sebab ia adalah pemilik dari domba-dombanya, ia memiliki akses untuk masuk ke kandang domba. Selain itu, domba-domba pun mau mendengarkan suaranya dan mengikuti sang gembala sebab orang tersebut mereka kenali dan ketahui sebagai pemiliki atau pemelihara hidup mereka.

Perumpamaan ini dicertakan Yesus untuk memperlihatkan bahwa melalui dirinya adalah sang pemilik dan pemelihara manusia, yakni Allah datang dan memimpin manusia supaya mereka memiliki hidup yang kekal. Dan sebaliknya, hanya melalui Yesus juga, manusia akan mendapatkan hidup yang kekal, hal ini dibicarakan dalam Yohanes 10:9-10. Jadi Yesus adalah pintu, bagi Allah untuk memimpin manusia kepada keselamatan, dan disisi yang lain Yesus juga adalah pintu bagi manusia untuk mendapatkan Allah, yakni mendapatkan keselamatan (bdk. Yoh 17:3).

Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa di akhir zaman akan ada orang-orang yang ngaku-ngaku dirinya adalah mesias. Kita harus tetap pada keyakinan kita bahwa hanya Yesuslah mesias dan tidak ada yang lain. Dalam Matius 24:23-24 dituliskan: “Pada waktu itu, jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dasyat dan mukzisat-mukzisat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Yang menarik adalah orang-orang yang mengaku dirinya mesias ini ternyata dapat melakukan tanda-tanda yang bersifat supraalamiah. Alkitab mengatakan mereka melakukan tanda-tanda yang dasyat dan mukzisat-mukzisat. Di zaman sekarang ada banyak orang terpesona dengan yang namanya tanda dan mukjisat. Terkadang orang-orang Kristen masa kini mengukur benar atau tidaknya hamba Tuhan berdasarkan mukjisat. Namun, Alkitab jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita bahwa mukjisat dan tanda dapat juga dilakukan oleh nabi palsu dan mesias palsu. Itulah sebabnya kita harus waspada, tidak semua orang dan semua gereja yang terdapat kesembuhan adalah hamba Tuhan ataua gereja yang benar. Kita harus tahu bahwa mesias yang sejati telah datang, Ia adalah Yesus. Melalui Yesus, Allah mengerjakan keselamatan bagi kita dan melalaui Yesus pula kita akan beroleh hidup yang kekal. Inilah yang membuat kita percaya kepada Yesus.


Apakah kita sudah percaya kepada Yesus? Ada banyak orang merasa bahwa mereka tidak perlu percaya Yesus sebab mereka merasa dapat menyelamatkan hidup mereka sendiri. Memang dalam dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan hal yang demikian. Namun, Firman Tuhan menunjukkan kepada kita hal yang sebaliknya, manusia itu tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia itu butuh diselematkan. Dan inilah yang menjadi tujuan dari kedatangan Tuhan Yesus, supaya kita dapat diselamatkan. Kita perlu percaya kepada Yesus sebab tidak ada jalan lain bagi manusia untuk diselamatkan kalau tidak melalui Yesus.

Minggu, 17 November 2013

Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup

Kata Yesus kepadanya: "Aku adalah satu-satunya jalan dan satu-satunya kebenaran
dan satu-satunya kehidupan. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6)

Perkataan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” atau lebih tepat diterjemahkan “Aku Adalah satu-satunya jalan, dan satu-satunya kebenaran dan satu-satunya kehidupan adalah salah satu perkataan Yesus yang paling dikenal oleh orang-orang Kristen.
Saya sendiri mengenal kalimat Yesus ini sekitar 23 tahun yang lalu saat seorang hamba Tuhan memberitakan injil kepada saya. Saya masih ingat pada waktu itu seorang hamba Tuhan--yang menjadi kakak rohani saya--menjelaskan bahwa saya adalah orang berdosa, bahwa orang berdosa haruslah dihukum dan hukumannya adalah binasa di neraka, lalu ia bertanya apakah saya mau masuk neraka? Saya pun menjawab “tidak,” lalu ia bertanya bagaimana supaya kita tidak masuk neraka dan tidak dihukum Tuhan, maka ia menjelaskan “satu-satunya jalan adalah kamu mesti percaya Yesus sebab tidak ada seorang pun datang kepada Bapa artinya masuk sorga, jika ia tidak datang melalui Yesus.” Saya diminta untuk membaca Yohanes 14:6, seingat saya dalam momen itulah saya kemudian menerima Yesus.
Saya sangat yakin, ada banyak orang Kristen yang seperti saya, yang mengenal atau mengerti perkataan Yesus dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup,” dalam konteks atau kerangka bagaimana supaya manusia luput dari penghukuman Tuhan.
Persoalannya adalah jika kita membaca Yohanes ps. 14 mulai ayat 1 sampai 14, di sana ternyata kita tidak mendapatkan indikasi sedikit pun bahwa Yesus sedang mengucapkan perkataan “Aku adalah satu-satunya jalan, dan satu-satunya Kebenaran dan satu-satunya kehidupan,” yang merupakan perkataan ke-enam dari 7 ucapan Akulah ini, dalam konteks menghindari penghukuman neraka.
Sewaktu saya mempersiapkan kotbah ini, saya teringat dengan seorang pakar teologi yang pernah menulis sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif. Buku ini ditulis oleh kumpulan ahli biblika dengan editor G. K. Beale dengan judul “The Right Doctrine from the Wrong Text.” Saya menjadi bertanya-tanya mungkinkah pada saat saya memahami Yohanes 14:6, bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia supaya luput dari hukuman dosa, merupakan sebuah pemahaman yang benar, yang berakar pada text yang salah, seperti judul buku yang diedit oleh G. K. Beale, “The Right Doctrine from the Wrong Text.”
Alkitab memang mengajarkan kepada kita bahwa dosa akan membawa manusia pada penghukuman, Roma 3:23 berbicara tentang hal tersebut. Kematian Yesus memang adalah kunci bagi penyelesaian dosa manusia, itu juga diajarkan Alkitab misalnya saja dalam Roma 5:10. Demikian juga dengan ajaran bahwa percaya atau iman kepada Yesus adalah kunci untuk mendapatkan hidup yang kekal, hal ini pun jelas diajarkan Alkitab contohnya dalam Yohanes 3:16. Meskipun demikian, apakah perkataan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” yang dipahami dalam konteks kelepasan manusia dari penghukuman neraka dibicarakan sesuai dengan konteksnya? Perkataan “Aku adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya hidup” jelas ada dalam Alkitab, namun apakah waktu Yesus menyampaikan perkataan ini, konteksnya adalah berbicara tentang kelepasan manusia dari penghukuman neraka? Jawabannya adalah tidak.
Hal ini tentu membuat kita bertanya-tanya, jika Yesus mengucapkan perkataan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” bukan dalam konteks kelepasan dari hukuman neraka, jadi, bagaimana kita harus memahami Yohanes 14:6 ini?  
Jika kita membaca Yohanes 14:1-14 dengan teliti, kita pasti akan menemukan bahwa perkataan Yesus bahwa dirinya adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya kehidupan, dan tidak ada seorang pun datang kepada Allah tanpa melalui Dia, diucapkan Yesus dalam konteks menyatakan bahwa dalam diri-Nyalah manusia dapat mengenal dan bersekutu dengan benar dengan Allah.
Mengapakah Yesus berkata bahwa diri-Nya adalah satu-satunya jalan? Yesus menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya jalan sebab hanya melalui dirinyalah maka manusia dapat bertemu dengan Allah Bapa.
Perkataan Tuhan Yesus bahwa drinya adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya kehidupan diucapkan Yesus dalam rangka menjawab pertanyaan Thomas yang sedang meresponi perkataan Yesus bahwa ia akan pergi ke rumah Bapa. Thomas kemudian berkata “Tuhan kami tidak tahu kemana engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” bagi kebanyakan orang pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang mengsimbolkan kedegilan murid-murid Yesus. Namun bagi Yohanes pertanyaan Thomas sebenarnya merupakan representasi dari sebuah realita umat manusia, bahwa dalam keberdosaan kita, kita tidak mampu pergi ke tempat Bapa.
Yesus dapat pergi ke rumah Bapa sebab ia berasal dari sana, itulah sebanya Yesus menyebut Allah itu dengan sebuatan bapa-Ku. Sedangkan manusia tidak mampu datang kepada Tuhan sebab kita adalah orang berdosa. Keberdosaan kita membuat diri kita terpisah dari Allah, membuat kita tidak mungkin datang kepada Tuhan. Itulah sebabnya satu-satunya cara supaya manusia dapat datang kepada Allah, supaya murid-murid Yesus dapat bersama-sama dengan Yesus bersekutu dengan Bapa, maka Yesus harus membawa murid-muridnya. Itulah sebabnya Yesus berkata Yesus akan kembali dan membawa manusia—murid-murid-Nya--ke tampat-Nya, tempat Bapa.
Jadi, perkataan Akulah satu-satunya jalan, menunjuk kepada sebuah kebenaran bahwa hanya Yesuslah yang mampu membawa manusia untuk sampai ke rumah (tempat) Bapa, hanya melalui Yesuslah manusia dapat bertemu dan bersekutu dengan Bapa serta Kristus secara sempurna. Dan Yesus berjanji, kelak saat Ia datang yang kedua kalinya maka ia akan membawa kita, murid-murid-Nya, untuk memasuki persekutuan yang indah dengan Bapa dan Kristus secara sempurna. Jadi, Yesus menyebut dirinya sebagai satu-satunya jalan sebab hanya melalui dirinyalah, maka manusia kelak akan dapat kembali bertemu dan bersekutu dengan Allah Bapa dan Kristus dalam sebuah hubungan yang sempurna.
Lalu apakah artinya saat Yesus berkata bahwa dirinya adalah satu-satunya kebenaran? Yesus menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya kebenaran sebab hanya melalui dirinyalah, maksudnya melaui Yesus, maka manusia akan benar-benar memahami seperti apakah Bapa itu.
Dalam Yohanes 14: 8-9 Filipus minta supaya Yesus menunjukan Bapa itu kepada dia. Dan dalam ayat 9-11 Yesus menegaskan bahwa dalam diri-Nyalah Bapa itu diperlihatkan. Saat murid-murid melihat Yesus, seharusnya mereka menyadari bahwa mereka sedang melihat Allah Bapa, sebab dalam Yesuslah pribadi Bapa menjadi nyata.
Hal ini pararel dengan apa yang dikatakan Yohanes dalam Yohanes 1:17-18 “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebernaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi anak tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya. Kasih karunia dan Kebenaran apakah yang datang melalui Yesus? Jawabannya adalah kasih dan kebenaran tentang Allah Bapa, hal itulah yang dinyatakan atau diperlihatkan dalam pribadi Yesus.
Dalam diri Yesuslah Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Dalam diri Yesuslah Allah yang penuh kasih diperlihatkan atau dibuktikan kasih-Nya, saat Yesus mati di atas kayu salib. Dalam air mata Kristuslah kita melihat air mata Allah saat melihat begitu banyak orang yang tidak mau bertobat dan menerima anugerah keselamatan yang sejati. Dalam kemarahan Kristus-lah kita melihat kemarahan Allah terhadap segala macam perbuatan dosa.
Jadi, waktu Tuhan Yesus berkata Aku adalah satu-satunya jalan, aku adalah satu-satunya kebenaran, maka yang dimaksudkan dengan satu-satunya kebenaran menunjuk pada jati diri Yesus sebagai satu-satunya pribadi yang memperlihatkan secara sempurna seperti apakah pribadi Allah Bapa itu
Yesus juga menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan, apakah arti dari perkataan ini? Mengapakah Yesus berkata bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan? Yesus berkata demikian sebab hanya Dialah yang mampu memberikan kepada manusia kehidupan yang sejati. Melalui iman kepada Yesus maka manusia akan menemukan apa artinya kehidupan yang sejati, sebuah kehidupan yang berbahagia, yang diperoleh manusia karena adanya hubungan yang dipulihkan, hubungan yang benar dengan Allah Bapa.
Sewaktu Yesus berkata bahwa dirinya adalah satu-satunya jalan, maka murid-murid diingatkan bahwa melalui Yesus, kelak manusia akan dibawa kepada sebuah persekutuan yang indah dengan Bapa dan Kristus. Demikian juga sewaktu Yesus berkata bahwa ia adalah satu-satunya kebenaran, ia memperlihatkan bahwa dalam diri-Nyalah pribadi Allah itu menjadi nyata. Dan sekarang Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan, artinya dirinyalah pemberi kehidupan yang sejati, kehidupan yang diperoleh melalui persekutuan yang indah dengan Allah Bapa dalam Kristus.
Jika kita membaca Yohanes 17:3, kita akan menemukan bahwa hidup yang kekal dipahami sebagai sebuah kehidupan yang bersumber pada pemulihan hubungan manusia dengan Allah. Dalam Yohanes 17:3 dituliskan “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Jadi, Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya kehidupan, sebab hanya melalui diri-Nyalah manusia akan memperoleh sebuah kehidupan yang sejati, kehidupan yang berbahagia, yang bersumber pada hubungan yang indah dengan Allah Bapa dalam Kristus.
Demikian juga dengan perkataan “tidak ada seorang pun yang datang kepada bapa, jika tidak melalui Aku,” haruslah kita pahami dalam konteks hubungan manusia dengan Allah Bapa. Melalui perkataan ini, Yesus hendak menegaskan ulang apa yang dikatakan sebelumnya dalam kalimat negatif bahwa manusia tidak dapat bertemu dengan Allah Bapa, tidak dapat melihat dan mengerti Allah Bapa, dan tidak dapat bersekutu dengan Allah Bapa, jika ia tidak percaya kepada Yesus. Mengapa demikian? Sebab hanya Yesuslah yang dapat memperlihatkan kepada kita secara sempurna seperti apakah Bapa itu dan dapat membawa kita untuk memiliki sebuah hubungan atau persekutuan yang indah dengan Bapa.
Jadi siapakah Yesus itu jika demikian? Jika dalam Injil Yohanes 1:14 diperlihatkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka dalam Yohanes 14 diperlihatkan bahwa Yesus adalah manusia yang memperlihatkan Allah.
Realitas bahwa dalam Yesus, Allah rela menjadi manusia supaya manusia dapat berhubungan atau berelasi atau bersekutu Allah memperlihatkan kepada kita sebuah kebenaran bahwa pengenalan akan Allah, hubungan pribadi dengan Allah, dan persekutuan dengan Allah sangatlah penting bahkan berharga.
Jika kita mencoba untuk bertanya, hal apakah yang manusia akan dapatkan atau peroleh saat kita percaya kepada Yesus? Maka Injil Yohanes akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban “manusia akan memiliki pengenalan yang benar akan Allah dan persekutuan yang hidup dengan-Nya, saat kita percaya kepada Yesus.”
Jika kita membaca surat-surat Paulus, kita akan menemukan bahwa Paulus mengajarkan bahwa keselamatan adalah karya Allah dalam Kristus yang melepaskan manusia dari perbudakan dosa. Namun, jika kita membaca injil Yohanes, Yohanes memperlihatkan keselamatan dari aspek yang berbeda. Yohanes memandang keselamatan sebagai karya Allah dalam Kristus yang memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Inilah berita injil, kabar gembira versi injil Yohanes yang harus kita pahami dengan benar saat kita mengambil keputusan untuk percaya pada Yesus.
Sewaktu mempersiapkan kotbah ini saya bertanya-tanya, mengapakah Yesus tidak mengkaitkan perkataan Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup ini dengan persoalan penghukuman neraka? Alasannya saya kira adalah sebab Ia tidak ingin kita percaya kepada Dia hanya gara-gara takut dihukum. Ia ingin kita percaya kepada Dia karena kita mengerti bahwa ia adalah Allah sendiri, juga karena Ia ingin supaya kita percaya kepada Dia, karena kita rindu untuk memiliki persekutuan yang indah dengan Bapa dalam Kristus.
Inilah kebenaran pertama yang saya ingin ajak jemaat pikirkan. Yesus datang ke dalam dunia supaya manusia dapat kembali bersekutu dengan Allah dalam Dia, itulah sebab setiap orang yang percaya kepada Yesus hendaknya memiliki kerinduan yang sama dengan Allah, memiliki sebuah kerinduan yang mendalam untuk mau bersekutu dengan Allah dalam Kristus.
Jemaat sekalian, saya yakin, dalam keberdosaannya manusia tidak dapat menerima bahwa persekutuan yang indah dengan Allah dapat memberikan sumber kebahagiaan yang sejati. Bagi manusia, menjadi kaya, hidup enak dan nyaman, tidak pernah sakit, memiliki keluarga yang berhasil, itulah hal-hal yang disebut kebahagiaan. Meskipun demikian sebagai orang yang benar-benar percaya kepada Yesus, kita pasti telah mengalami apa artinya memiliki kehidupan yang berbahagia karena kita memiliki hubungan yang indah dengan Tuhan.
Raja Daud, dalam Mazmur 84:10 mengatakan “…lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik… .” Perkataan Raja Daud ini mencerminkan seseorang yang mengalami kebahagiaan hidup yang lahir dari sebuah hubungan pribadi dengan Tuhan yang indah. Dalam dunia ini ada banyak tempat yang indah dan memberikan kebahagiaan, namun Daud memandang kebahagiaan yang lahir dari hadirat Tuhan tidak sebanding dengan kebahagian lainnya.
Rasul Paulus adalah seorang yang memiliki hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Hubungan pribadinya dengan Tuhan membuat Rasul Paulus peka sekali terhadap pimpinan Tuhan bahkan menguatkan Dia saat ia harus mengalami kesulitan-kesulitan hidup. Bahkan saat Rasul Paulus menghadapi yang namanya “duri dalam daging,” ia tetap dapat bersuka cita atasnya. Sikap Paulus ini bersumber dari hubungan pribadinya yang dekat dengan Tuhan yang membuatnya mengerti apa rencana Tuhan dalam kehidupannya.
Bagaimana dengan anda dan saya, apakah kita sudah seperti Daud dan Paulus, yang mengalami apa artinya pemulihan hubungan pribadi dengan Tuhan? Apa artinya memiliki kehidupan yang berbahagia yang lahir dari persekutuan pribadi dengan Tuhan? Jika kita tidak mengalaminya, itu berarti ada sesuatu yang salah dengan pengikutan kita pada Kristus.
Hal-hal yang salah apakah yang dapat membuat kita tidak bertumbuh dan tidak menikmati pemulihan hubungan dengan Tuhan. Pertama, saat kita percaya Yesus, kita barangkali memiliki konsep yang salah tentang keselamatan sehingga kita mengharapkan apa yang tidak pernah Alkitab janjikan. Saat kita percaya Yesus, kita barangkali tidak sadar bahwa kita percaya Yesus supaya kita dilepaskan dari perbudakan dosa dan dipersatukan dengan Allah dalam sebuah persekutuan yang indah. Karena kita tidak memahami tujuan dari keselamatan dengan benar, akhirnya kita tidak dapat menikmati apa artinya diselamatkan. Kedua, ada dosa tertentu yang kita belum selesaikan yang mempengaruhi hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Jemaat sekalian, dosa itu punya dampak yang hebat, yang pertama kali dirusak dosa dari kita selalu adalah hubungan pribadi dengan tuhan. Ketiga, karena kurangnya komitmen, kurannya hasrat dan minat dalam membangun hubungan pribadi dengan Tuhan.
Dalam kehidupan ini, salah satu pertanyaan yang ingin kita ketahui dengan pasti adalah bagaimana kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan? Salah satu ciri terpenting dari orang yang telah diselamatkan adalah adanya hubungan pribadi yang baru dengan Tuhan. Ingat, keselamatan adalah pemulihan relasi manusia dengan Tuhan, dalam Yesus manusia memiliki sebuah persekutuan yang baru dengan Tuhan, itulah sebabnya orang-orang yang telah percaya Yesus, orang-orang yang berada dalam Kristus tidak bisa tidak hidupnya sekarang haruslah ada persekutuan dengan Tuhan.
Itulah sebabnya jemaat sekalian, mulai hari ini jangan lagi anggap remeh hubungan pribadi dengan Tuhan, ingat hubungan pribadi dengan Tuhan adalah ciri dari kesejatian iman kita pada Yesus. Jika kita benar-benar adalah orang yang telah diselematkan, maka hubungan pribadi dengan Tuhan itu akan nampak dalam keseharian kita.
Bertekunlah setiap hari dalam doa dan mempelajari Firman Tuhan, mengapa demikian? Sebab melalui doa dan mempelajari Firman Tuhanlah, kita membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Sudah berapa lamakah anda tidak berdoa? Sudah berapa lamakah anda tidak membaca Firman Tuhan? Sudah berapa lamakah keluarga anda tidak bersekutu dalam Tuhan? Hari ini perbaikilah hubungan pribadi kita dengan Tuhan.
Perkataan Yesus “Akulah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya kehidupan,” memperlihatkan kerinduan Allah bagi kita supaya manusia mau kembali dan bersekutu dengan-Nya.  Itulah sebabnya ia rela datang ke dalam dunia dan mati bagi dosa-dosa kita supaya tidak ada lagi penghalang bagi manusia untuk dapat datang dan bersekutu dengan Allah Bapa, namun apakah kerinduan yang sama ada pada kita? Adakah kerinduan yang mendalam dan berkobar-kobar dalam diri kita untuk datang dan bersekutu dengan-Nya?