Minggu, 20 Oktober 2013

Berani Terima Disiplin: Surat Untuk Jemaat Sardis (Wahyu 3:1-6)

"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
Seorang pakar dalam bidang Perjanjian Baru yang cukup terkenal bernama R. H. Charles mengatakan dari tujuh gereja yang dikirimi surat oleh Tuhan Yesus, jemaat Sardis adalah jemaat yang dikritik atau ditegur Tuhan paling keras. Perkataan Tuhan Yesus misalnya saja “tidak ada satu pun pekerjaanmu, Aku dapati sempurna dihadapan-Ku,” memperlihatkan betapa seriusnya persoalan yang ada dalam jemaat Sardis.

Sebelum kita membahas mengenai persoalan utama jemaat Sardis, kita perlu mendiskusikan terlebih dahulu mengenai kota Sardis. Para arkeolog mengatakan kota Sardis sebenarnya adalah sebuah kota yang kaya. Kekayaan kota ini disebabkan karena kota ini menjadi pusat perdagangan. Oleh karena dalam budaya kuno, mata pencaharian utama kebanyakan adalah berdagang, maka kota-kota yang menjadi pusat perdagangan, sering kali menjadi kota-kota yang makmur.

Lalu bagaimanakah keadaan jemaat di kota ini? Walaupun tidak secara eksplisit atau tertulis dijelaskan mengenai kondisi dari jemaat di kota ini, namun kita sepertinya dapat melihat bahwa jemaat di kota ini cukup besar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata “Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati.” Jadi, jemaat di kota Sardis ini, menurut perkataan orang ini adalah gereja yang hidup.

Ada sebuah gereja di salah satu kota besar di Indonesia yang dinilai oleh banyak orang cukup berhasil. Banyak orang memandang demikian sebab jemaatnya cukup banyak. Satu kali ada seorang yang ingin mengetahui alasan utama dari berhasilnya gereja ini, maka dibuatlah sebuah survey untuk mengetahui rahasia keberhasilan gereja ini. Setelah survey dilakukan, akhirnya didapatilah dua kesimpulan, yakni gereja ini diminati oleh banyak orang Kristen karena 1) ada penjemputan dan pengantaran gratis baik saat orang datang maupun pulang; 2) alasan yang kedua adalah setiap minggu jemaat disediakan makanan sebelum pulang gereja. Dilihat dari hasil survey ini, walaupun gereja ini besar dan nampak hidup, namun apakah betul gereja ini adalah gereja yang hidup. Bagaimana jika acara makan-makannya dihilangkan atau tidak ada lagi penjemputan dan pengantaran, akankah jemaatnya tetap setia pada gereja ini?

Dari kisah ini kita melihat, ada  hal yang sama terjadi dengan jemaat di Sardis. Dimata orang-orang Kristen, memang gereja ini adalah gereja yang hidup. Namun masalahnya adalah dimata Tuhan ternyata penilaiannya berbeda. Tuhan berkata ‘Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati.” Segala pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan jemaat Sardis nampaknya dimata manusia adalah pekerjaan-pekerjaan yang hebat dan luar biasa, namun dimata Tuhan ternyata itu tidak bernilai apa-apa. Dimata manusia, jemaat ini adalah jemaat yang hidup, namun dimata Tuhan, jemaat ini adalah jemaat yang mati.

Jadi, janganlah menilai gereja dan kesuksesannya sekedar menurut kaca mata manusia. Bagi manusia, gereja itu disebut sukses jika gereja itu barangkali tumbuh jadi gereja yang gedungnya besar, sistemnya rapih, keuangan atau finansialnya baik, dst. Gereja memang membutuhkan gedung, sistem dan uang, namun gereja bukanlah sekedar sebuah lembaga yang membutuhkan semua fasilitas tadi. Gereja adalah sebuah organisme, walaupun gedungnya bagus dan besar, sistem dan manajemennya baik, keuangannya kuat, namun jika jemaat, pengurusnya atau majelisnya adalah orang-orang yang hidupnya tidak kudus, maka gereja itu dimata Tuhan adalah gereja yang mati.

Menurut saya, hal inilah yang juga menjadi sumber persoalan dari jemaat Sardis. Mereka adalah jemaat yang larut dalam dosa. Tuhan Yesus berkata bahwa dalam jemaat Sardis masih ada orang-orang yang tidak mencemarkan pakaiannya. Dalam budaya Yahudi, pakaian adalah simbol dari kehidupan yang baru. Jadi, saat Tuhan Yesus berkata ada orang-orang di kota Sardis yang tidak mencemarkan pakaiannya, itu berarti dalam jemaat Sardis masih ada orang-orang tertentu yang memeliharakan kehidupan yang tetap bersih. Perkataan Tuhan Yesus ini, juga memperlihatkan bahwa dalam jemaat Sardis ada banyak orang yang tidak lagi menjaga kehidupan mereka untuk tetap kudus atau bersih dari dosa.

Pertanyaannya adalah mengapa jemaat Sardis bisa mengalami hal yang demikian? Mengapa sebuah jemaat yang begitu aktif dan dikenal hidup, namun mereka pada dasarnya adalah jemaat yang sedang mati? Ada beberapa jawaban yang mungkin menjadi jawabannya. Alasan yang pertama adalah “ketidaktegasan jemaat” terhadap dosa. Gereja Sardis sepertinya tidak berani dalam menegakkan yang namanya disiplin gereja yang benar. Akibatnya adalah pengaruh dosa dalam gereja tidak dapat dilokalisir dan kemudian dosa tertebut menulari jemaat yang lain. Ketidaktegasan gereja dalam memberikan yang namanya “disiplin gereja” atau teguran-teguran pada jemaat yang melakukan kesalahan membuat jemaat Sardis akhirnya mentoleransikan dosa.

Dalam sebuah gereja, pernah ada seorang pengurus yang melakukan dosa perselingkuhan. Oleh karena pengurus ini adalah pengurus yang dipandang sebagai tulang punggung gereja, maka tidak ada seorang pun yang berani menegur pengurus ini. Semua orang, termasuk para hamba Tuhannya “pura-pura tidak tahu” dengan dosa dari pengurus ini. Apakah akibat dari ketidakberanian gereja dalam memberikan teguran atau disiplin gereja kepada pengurus ini? Akibatnya adalah saat ada pengurus lain melakukan kesalahan, kemudian di tegur, pengurus itu berani berkata “kenapa saya ditegur dengan keras,” tetapi bapak itu, maksudnya pengurus gereja yang menjadi tulang punggung gereja tersebut, melakukan kesalahan kok tidak ada yang berani tegur." Coba lihat, ketidaktegasan gereja dalam menegur kesalahan membuat gereja kehilangan kewibawaan dalam menegur dosa, akibatnya dosa menjadi merajarela dalam gereja.

Hal yang demikian sepertinya terjadi dengan jemaat Sardis. Dan hal ini mengakibatkan jemaat Sardis, walaupun secara kegiatan tetap aktif, namun secara kerohanian dan pertumbuhan karakter merosot hebat. Mereka tidak mempunyai cukup wibawa dan kuasa untuk menegur dosa-dosa dalam jemaat, dan akibatnya secara kerohanian, moralitas dan karakter, jemaat-jemaat dalam gereja ini tidak bertumbuh.

Celakanya adalah, dimata Tuhan kondisi ini sangat buruk. Tuhan marah dengan jemaat ini. Dan Tuhan mempertingatkan jika mereka tidak bertobat, maka Allah akan menghukum mereka dengan keras. Tuhan akan membuang mereka dari muka bumi ini, artinya gereja di Kota Sardis akan musnah. Kepada orang-orang yang masih setia, yang tidak mau berkompromi dengan dosa baik itu dalam kehidupan masyarakat maupun  bergereja, Tuhan berjanji bahwa mereka akan bersama-sama dengan Kristus selamanya.

Dari apa yang terjadi dengan jemaat Sardis, kita belajar bahwa yang namanya disiplin gereja adalah hal yang penting atau utama dalam tugas pelayanan gereja. Dalam teologi reformasi bahkan ditegaskan bahwa disiplin gereja yang benar merupakan salah satu ciri dari gereja yang sejati. Jadi jika kita ingin gereja kita tetap menjadi gereja yang sejati dan tidak berubah menjadi gereja seperti di kota Sardis, kita harus mendoakan gereja kita supaya berani untuk menegakkan disiplin gereja yang benar. Bukan hanya itu jemaat juga perlu mendukung gereja saat ia mengambil keputusan untuk memberikan disiplin gereja kepada jemaat yang melakukan dosa atau kesalahan.

Selain itu, kita harus menjadi orang-orang Kristen yang mau memberi diri kita untuk didisiplinkan atau ditegur saat kita jatuh dalam sebuah kesalahan tertentu. Sekarang ini, jemaat-jemaat Kristen tumbuh menjadi jemaat yang kurang memiliki komitmen dalam gereja lokalnya, sehingga saat ia ditegur atau diberikan sanksi atau disiplin gereja, kita gampang menjadi marah, kecewa dan meninggalkan gereja. Kita sering kali merasa, di dunia ini ada banyak gereja, kalau saya tidak suka dengan gereja saya, atau kalau saya marah gara-gara ditegur, maka saya tinggal pindah gereja. Ini sebuah realitas.


Saya berharap kita tidak menjadi jemaat yang demikian, kita haruslah menjadi jemaat yang tangguh, yang selalu ingat kepada janji setianya saat diteguhkan menjadi jemaat lokal gereja kita. Bukankah saat kita menjadi anggota jemaat lokal sebuah gereja, kita selalu menyatakan kesediaan kita untuk menerima segala bentuk pengembalaan yang diberikan termasuk dalamnya disiplin gereja.