Minggu, 13 Oktober 2013

Kesetiaan dan Kesucian: Surat Kepada Jemaat Pergamus (Wahyu 2:12-17)


12 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua: 13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam. 14Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. 15Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus. 16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. 17Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya."

Jemaat Pergamus dikatakan diam ditempat tahta Iblis. Apakah artinya ‘tempat tahta iblis’ disini? Kenapa jemaat Pergamus dikatakan mereka tinggal ditempat dimana iblis bertahta? Sebutan ‘tempat iblis bertahta nampaknya terkait dengan keberadaan kota Pergamus yang menjadi pusat dari penyembahan dewa-dewa Yunani sekaligus penyembahan terhadap Kaisar. Di kota inilah kuil dewa Zeus didirikan, demikian juga dengan kuil dewi Athena dan Dewa Asklepius (dewa kesembuhan), bahkan di kota ini jugalah pusat dari penyembahan terhadap Kaisar.[1] Jadi dalam kota yang sama berbagai ‘penyembahan berhala’ terjadi. Nach jemaat Pergamus tinggal ditengah-tengah tempat yang menjadi center dari berbagai penyembahan berhala. Jemaat Pergamus tinggal ditengah-tengah pusat kekafiran.. Karena alasan inilah jemaat pergamus disebut sebagai jemaat yang tinggal di tempat tahta iblis.

Keberadaan jemaat Pergamus yang tinggal di tempat centralitas penyembahan berhala bukan tanpa pergumulan. Diwaktu itu tidak ada pilihan bagi masyarakat, mereka harus mengikuti aturan atau ketetapan pemerintah. Bila pemerintah menyuruh semua masyarakat menyembah kaisar maka semua orang harus melakukan itu. Orang yang tidak mau melakukan hal itu akan dianggap pemberontak dan melawan kaisar atau negara. Bagi orang yang dianggap demikian, konsekuensinya amat berat, mereka bisa kehilangan nyawa. Jadi keberadaan jemaat Tuhan yang tinggal di kota Pergamus sebenarnya sangat beresiko, mereka tinggal ditempat paling berbahaya.

Bagian Alkitab ini mengajarkan kepada kita, salah satu sumber  penderitaan yang dialami Gereja adalah Iblis. Iblis memakai segala sesuatu, baik itu negara, masyarakat, tradisi, dosa untuk membuat orang-orang percaya akhirnya menyangkali nama Tuhan dan menyangkali iman kepercayaannya kepada Yesus.

Saya ingat sebuah film yang berjudul, End of World.  Dalam film itu digambarkan tokoh utamanya sedang melawan Lucifer yang sedang datang dalam dunia. Pergumulan dari tokoh utama ini adalah ia tidak bisa mempercayai Tuhan, mengapa? Sebab keluarganya terbantai dan terbunuh dengan tragisnya. Bagaimana mungkin Tuhan itu bisa dikatakan ada, kalau akhirnya Ia jadi seorang yang begitu menderita. Penderitaan memang bisa dipakai iblis untuk membuat anak-anak Tuhan meninggalkan Dia.

Meskipun jemaat Pergamus tinggal ditempat yang paling berhaya, meskipun jemaat Pergamus hidup dalam berbagai ancaman dan resiko tetapi Tuhan mengatakan mereka ternyata tetap berpegang pada nama Tuhan dan tidak menyangkal iman mereka. Istilah ‘tetap berpegang pada nama Tuhan’ sepertinya terkait dengan kesetiaan mereka untuk tidak menyangkali nama Yesus. Salah satu tuntutan yang diminta bagi orang-orang Kristen yang ditangkap pemerintah adalah supaya mereka menyangkali nama Yesus. Mereka dijanjikan kebebasan jika mereka mau menyangkali nama Yesus. Tetapi jemaat ini tidak mau menyangkali nama Yesus.
Istilah tetap tidak menyangkali iman, sepertinya menunjuk pada sikap mereka yang tetap mau percaya kepada Yesus walaupun mereka menyaksikan realita, bahwa orang yang tetap setia ternyata tidak mengalami pertolongan Tuhan. Bahkan sewaktu seorang yang bernama Antipas memilih setia kepada Tuhan, ia malah mati Martir, namun mereka tetap percaya kepada Tuhan.

Jika kita, sewaktu melihat, ternyata orang-orang yang setia kepada Tuhan, walaupun mereka telah dengan tekun berdoa tetapi tidak dijawab Tuhan, bagaimana respons kebanyakan kita? Pasti responsnya, kita mulai ragu dan mulai bertanya-tanya, apakah Tuhan yang saya percayai ini benar? Jemaat Pergamus tidak demikian, walaupun mereka menyaksikan, Tuhan tidak menolong Antipas sewaktu dalam penderitaannya, tetapi mereka tetap percaya kepada Tuhan.

Jemaat Pergamus ini sungguh luar biasa. Kita harus belajar dari mereka. Apa yang kita bisa pelajari.
Dalam mengikut Tuhan dibutuhkan sebuah kesetiaan. Pada umumnya kesetiaan manusia termasuk didalamnya kesetiaan orang-orang Kristen kepada Tuhan, bergantung pada keadaan. Jika kita perhatikan kehidupan orang Kristen, kesetiaan seseorang kepada Tuhan biasanya terbagi dua, pertama ada orang yang baru setia kepada Tuhan saat ia dalam keadaan baik, jika segala hal sedang lancar, jika lagi banyak rejeki dst. Tapi jika lagi ada banyak masalah, mereka sering tidak berlaku setia kepada Tuhan. Jenis orang yang kedua adalah yang sebaliknya, orang-orang yang setia kepada Tuhan waktu ada banyak masalah tetapi waktu lancar-lancar, waktu sedang merasa beruntung, segera lupa dengan Tuhan. Yang seharusnya terjadi adalah pada saat kita sedang banyak pergumulan kita seharusnya setia kepada Tuhan, maka sewaktu pergumulan kita selesai, kita harus lebih setia lagi kepada Tuhan.

Meskipun jemaat Pergamus ini punya kesetiaan yang luar biasa kepada Tuhan, tetapi satu hal yang sangat ‘signifikan’ yang mereka latidakr. Ada sesuatu yang ‘tidak bisa dibiarkan’ yang telah mereka lakukan. Apakah itu? Ada beberapa orang dalam jemaat Tuhan yang ‘menganut ajaran Bileam.’ Ajaran ‘Bileam’ mana yang dimaksudkan? Ajaran Bileam adalah nesehat yang diberikan Bileam kepada Balakh untuk menyesatkan orang Israel dengan jalan membuat mereka terlibat dengan persembahan berhala dan perbuatan zinah. Nampaknya yang dimaksudkan oleh penulis wahyu adalah ‘toleransi terhadap segala imoralitas.’ [2]

Jadi, hal yang Tuhan amat kecewa dengan jemaat Pergamus adalah karena ada beberapa orang dalam jemaat ini walaupun mereka begitu setia kepada Tuhan namun mereka terlibat dan terjerat dengan segala imoralitas. Imoralitas apakah yang Tuhan tegur dari jemaat Pergamus. Imoralitas yang dimaksudkan sepertinya terkait dengan dosa-dosa seksual, terkait dengan perzinahan-perzinahan tertentu, atau terkait dengan kecemaran-kecemaran tertentu. Memang diwaktu itu budaya Yunani-Romawi adalah budaya yang amat sarat dengan segala macam dosa-dosa dan kecemaran seksual. Toleransi dari masyarakat terhadap segala macam dosa dan kecemaran inilah yang nampaknya membuat beberapa anggota jemaat Pergamus terlibat dalam kecemaran ini juga.

Tuhan memandang kehidupan yang toleran dengan ‘pelanggaran-pelanggaran moral ini’ sebagai sesuatu yang amat serius. Oleh sebab itulah Tuhan sampai berkata, bertobatlah, jika tidak demikian Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan mmerangi mereka dengan pedang yang ada dimuluKu ini. Apakah arti dari perkataan ini? Istilah pedang terkait dengan penghukuman. Jadi Tuhan mengancam, jika jemaat ini tidak mau bertobat maka Tuhan akan datang untuk menghukum mereka.

Yang menarik adalah ‘panggilan untuk bertobat’ ternyata diserukan bukan hanya kepada beberapa jemaat yang hidup immoral tetapi juga ditujukan kepada seluruh jemaat Pergamus. Apa sebabnya? Sebab jemaat Pergamus telah bersikap toleran terhadap kelompok orang ini. Yang Allah kehendaki adalah mereka harus tegas dengan orang-orang yang hidup secara immoral tersebut. Jadi, membiarkan orang yang bersalah, bersikap toleran dengan orang yang bersalah, sama bersalahnya dengan orang yang bersalah.

Masih ingatkah kita dengan jemaat Efesus, mereka Tuhan salahkan karena mereka tidak punya kasih, Pergamus ditegur dalam hal yang sebaliknya, mereka disalahkan karena terlalu toleran dengan kesalahan jemaatnya. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan mengkehendaki bukan saja kesetiaan tetapi kebenaran. Tuhan mengkehendaki umat-umat Tuhan bukan sekedar setia kepada Dia tetapi berpegang kepada kebenaran dengan tidak mentoleransikan dosa ataupun kecemaran-kecemaran moralitas.

Ternyata orang yang setia kepada Tuhan tidak otomatis hidupnya bebas dari ‘kehidupan yang sarat dengan dosa.’ Jemaat Pergamus dalam mengikut Tuhan telah sangat setia tetapi mereka tetap bisa jatuh dalam dosa-dosa yang berat dan bisa juga bersikap toleran dengan segala macam dosa. Makanya jangan kita merasa jika seseorang sudah setia, sudah militan, sudah sepertinya memberikan ‘segala-galanya’ untuk Tuhan maka orang tersebut pasti otomatis punya kehidupan yang suci dan saleh.

Saya pernah mendengar ada seorang suami yang begitu setia dalam melayani. Pokonya bila Pak Pendeta membutuhkan teman baik dalam pekunjungan atau pelayanan lainnya maka orang ini yang pasti dicari dan ia selalu bisa untuk melakukan pelayanan. Tetapi ternyata dirumah, ia amat berbeda dengan di gereja. Bapak ini ternyata suka memukul istrinya. Bahkan akhirnya ia meninggalkan istrinya sendiri.

Waktu saya mendengar kisah ini, saya menjadi sadar bahwa kesetiaan kepada Tuhan barulah satu aspek, aspek ini penting tetapi ada aspek lain yang harus ada pada kita yakni aspek kesucian, aspek, kehidupan yang benar, kehidupan yang bertanggung jawab dst. Dari sini kita bisa belajar bahwa kesetiaan dan kesucian adalah dua hal yang bisa jadi tidak otomatis ada bersamaan dalam diri kita. Kita harus berusaha dan berjuang supaya kedua hal ini yakni kesetiaan dan kesucian ada pada kita.

Berbicara mengenai pergumulan yang dihadapi oleh jemaat Pergamus dalam hal imoralitas dosa yang dianggap wajar oleh masyarakat, hal yang sama juga terjadi di zaman kita. Bayangkan di zaman kita ini, yang namanya nyontek, bukan saja dianggap wajar, tapi bahkan ada yang sampai disaranai oleh gurunya. Demikianlah yang saya dengar dari anak-anak sekolah yang ada di gereja saya. Realita dosa yang dianggap wajar dan biasa dapat membuat kita bersikap toleransi untuk dosa dan tolerasi untuk orang-orang yang melakukan dosa.

Tuhan berkata siapa menang ia akan diberikan manna yang tersembunyi dan batu putih yang diatasnya tertera nama batu, yang tidak diketahui oleh siapapun selain yang menerimanya. Apakah maksudnya kalimat ini?

Istilah menerima ‘manna yang tersembunyi’ sepertinya terkait dengan tradisi mengenai adanya ‘manna’ yang disimpan dalam tabut perjanjian. Manna ini disembunyikan disana untuk satu kali akan diberikan kepada orang-orang yang terhisap dalam kerajaan sang mesias. Gagasan ini hendak menyatakan bahwa kepada orang-orang yang menang, kepada orang-orang yang bertobat dari sikap teleransinya terhadap dosa, maka Tuhan akan menjadikan mereka umat-umat Allah, menjadikan mereka orang-orang yang berhak masuk kedalam ‘tempat perjamuan Tuhan,’ maksudnya masuk kedalam sorga yang mulia.

Lalu istilah batu putih menunjuk pada dua hal yakni petama tanda pembenaran dan kedua tanda masuk (tiket). Pada waktu itu batu putih biasanya dipakai sebagai sebuah tanda pembenaran seseorang yang sedang dalam pengadilan. Orang yang dibenarkan akan mendapatkan batu putih sementara itu yang yang dinyatakan salah akan mendapatkan batu hitam. Arti yang kedua dari batu putih adalah tiket. Maksudnya: orang yang bertobat tadi, orang yang mempunyai baik kesetiaan maupun kesucian-lah yang akan menerima konfirmasi iman untuk masuk dalam kerajaan sorga.

Sebuah pertanyaan yang muncul dibenak kita adalah apakah kesetiaan dan kesucian adalah cara supaya seseorang masuk sorga? Tentu bukan, kesetiaan dan kesucian bukanlah alat seseorang masuk sorga melainkan ciri dari orang-orang yang memang harus masuk sorga. Coba renungakan a) apakah kita mempunyai kesetiaan kepada Tuhan b) apakah kamu mempunyai kesuciaan?






[1] G. E. Ladd, a Commentary on The Revelation, 46.
[2] G. E. Ladd, A Commentary On The Revelation 48.