Minggu, 03 November 2013

Bertemu Tuhan Dalam Nyanyian


               Tema kita hari ini menarik untuk dipikirkan. “Bertemu Tuhan dalam Nyanyian.” Biasanya saat kita berbicara mengenai bagaimana cara kita bertemu Tuhan? Pada umumnya kita akan mengatakan bahwa pertemuan dengan Tuhan itu melalui pemberitaan Firman Tuhan atau melalui doa. Pertanyaannya adalah bisakah sebuah nyanyian itu membawa kita untuk bertemu dengan Tuhan?
                Tentu untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat dalam Alkitab apakah sebuah nyanyian pujian dapat digunakan sebagai sarana perjumpaan pribadi dengan Tuhan? Bacalah Ulangan 31:14-22
Dalam bagian Alkitab yang kita baca, kita melihat bahwa Tuhan menggunakan nyanyian untuk mengajar bangsa Israel. Cara Tuhan mengajar itu sangat kreatif, ada berbagai cara yang Tuhan gunakan.Tuhan terkadang mengajar umat Tuhan secara langsung; Tuhan panggil seorang Nabi, misalnya saja Yesaya, Tuhan berfirman kepada Yesaua dan yesaya menyampaikan secara langsung pesan Tuhan kepada umat Tuhan. Namun, Tuhan ternyata tidak hanya berbicara secara langung melalui mulut seorang nabi. Dalam PL, kita pasti pernah membaca kisah mengenai Nabi Hosea yang disuruh Tuhan untuk menikahi seorang perempuan yang tidak setia yang bernama Gomer. Pernikahan Hosea dan Gomer adalah sebuah alat peraga yang Tuhan gunakan untuk mengajar orang Israel megenai hubungan Tuhan dengan umat Israel. Hosea yang diminta untuk tetap setiap kepada istrinya adalah gambaran dari Tuhan, dan gomer yang selalu tidak setia adalah gambaran dari bangsa Israel. Kisah hubungan Hosea dan Gomer dijadikan drama kehidupan yang mencerminkan hubungan TUhan dan bngsa Israel.
Kita juga pasti pernah membaca kisah Yunus yang diajar Tuhan melalui sebuah pohon jarak, yang pada awalnya membuat yunus senang karena menudunginya saat kepanasan, namun kemudian membuat Yunus marah karena pohon itu mati; dan Tuhan mengajar Yunus, jika Yunus saja sayang dengan pohon, bagaimana Tuhan bisa tidak sayang dengan ribuan orang di kota Niniwe yang hidupnya jauh dari Tuhan. Diantara sekian banyak cara yang Tuhan gunakan untuk mengajar bangsa Isreal, Tuhan juga ternyata menggunakan nyanyian sebagai cara dia menggajar umat Tuhan.
Itulah yang kita baca dalam Ulangan 31:19 dan 22 “Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel. … Maka Musa menuliskan nyanyian ini dan mengajarkannya kepada orang Israel. Pada saat Musa sudah waktunya meninggal dunia, maka Tuhan ingin Musa menyampaikan pesan-pesan terakhirnya. Apakah pesan terakhir dari Tuhan melalui Musa? Lihat ayat 16-18.
Tuhan ingin bangsa Israel tahu bahwa mereka akan melawan Tuhan di masa yang akan datang (ay. 16) dan saat mereka melawan Tuhan maka Tuhan akan menghukum mereka dengan berbagai kesusahan (ay. 17) dan hal tersebut dibuat Tuhan supaya mereka mengerti bahwa dosa mereka telah membuat Tuhan berpaling dari mereka (ay. 17-18). Cara yang Tuhan inginkan supaya Musa gunakan dalam mengajarkan hal tersebut adalah melalui menyanyikannya. Maka Musa kemudian mengajarkan bangsa Israel nyanyian mengenai pesan Tuhan kepada mereka, mengenai apa yang mereka akan alami dan sikap Tuhan saat mereka meninggalkan Tuhan.
Dengan demikian, kita melihat bahwa nyanyian yang digunakan untuk mengajar bangsa Israel sebenarnya adalah pesan Firman Tuhan sendiri. Nyanyian yang seperti ini pada dasarnya tidak beda dengan pemberitaan Firman Tuhan, nyanyia seperti ini dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Dari sinilah kita belajar bahwa nyanyian pujian ternyata bisa digunakan untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan. Jadi, Firman Tuhan bisa diajarkan baik melalui pemberitaan langsung misalnya saat firman Tuhan dikotbahkan, namun firman Tuhan juga dapat diajarkan melalui bentuk nyanyian.
Menurut saya, jika kita mau pilih lagu, pilihlah lagu yang memiliki nilai ajaran yang kuat. Jangan sekedar pilih lagu yang enak dinyanyikan, namun muatan ajarannya dangkal. Mengapa demikian? Sebab nyanyian adalah sarana yang bisa digunakan untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan dan nyanyian yang seperti demikian dapat dipakai Tuhan sebagai sarana untuk membawa seseorang kepada pertobatan.
Kita juga belajar bahwa nyanyian pujian seharusnya merupakan perpanjangan dari pemberitaan Firman Tuhan. Itu berarti isi dari nyanyian pujian itu haruslah “pararel” dengan pesan Firman Tuhan. Jika kita memilih lagu yang akan kita nyanyikan, kita harus yakin betul bahwa isinya adalah sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan. Itu juga berarti isi dari nyanyian yang benar haruslah benar dalam syairnya.
Hal kedua yang kita bisa pelajari adalah bahwa nyanyian itu digunakan oleh Tuhan bukan untuk menggantikan Firman Tuhan namun untuk menjadi kesaksian bagi Tuhan. Dalam ayat 19 kita membaca bahwa ditegaskan oleh Tuhan bahwa nyanyian yang berisikan firman Tuhan itu akan “menjadi saksi bagiKu.” Apakah yang dimaksudkan oleh Alkitab dengan menjadi “saksi”? Dalam dunia kuno, tugas dari saksi adalah menyatakan kebenaran atau menceritakan hal yang benar; atau dapat juga dikatakan bahwa kesaksian itu tugasnya adalah meneguhkan kebenaran.
Sesuatu yang meneguhkan pada dasarnya berperan sebagai sesuatu hal yang menguatkan. Jadi sesuatu yang meneguhkan tidak dibuat untuk menjadi penganti dari yang diteguhkan. Dengan demikian, nyanyian itu fungsinya adalah meneguhkan firman Tuhan; nyanyian itu digunakan untuk menguatkan pesan Firman Tuhan.
Ada kalanya kita mendengar ada orang-orang yang ke gereja cuma mau “praise and worship” tapi tidak mau ada pemberitaan Firman Tuhan.
Dalam sebuah persekutuan kaum Muda, ada seorang pemuda yang antusias sekali dalam pelayanan. Dia ajakin teman-temannya untuk mau ikut dalam kelompok kecil yang dirintisnya. Satu kali anak muda itu datang kepada salah satu penginjil yang menjadi Pembina pemuda, lalu pemuda tersebut mensahringkan apa yang direncanakannya, Dia berkata kelompok yang akan dibangun itu adalah kelompok yang dalamnya terutama akan melakukan “praise and worship” di dalam kelompok itu, kita tidak lagi akan mempelajari Firman Tuhan, cuma shering dan nyanyi.
Ini adalah contoh dari sikap yang kebablasan dari sebagian orang Kristen. Dimana nyanyian dan pujian kepada Tuhan menggantikan pemberitaan Firman Tuhan. Hal ini tidak boleh terjadi sebab nyanyian dan pujian (yang disebut sebagai “praise and worship”) mempunyai fungsi menguatkan pemberitaan Firman Tuhan dan bukan menggantikannya. Maka berhati-hatilah; kalau kita mau membuat acara nyanyian pujian, jangan buang pemberitaan Firman Tuhan; dan jangan kurangi waktu untuk pemberitaan tersebut.
Sebenarnya nyanyian pujian dalam ibadah Kristen—menurut saya--mempunyai dua fungsi. Fungsi yang pertama terkait dengan apa yang kita bahas hari ini, yakni nyanyian pujian yang digunakan untuk meneguhkan ajaran. Fungsi yang kedua adalah menjadi ekspresi hati kita kepada Tuhan.
Jenis pujian yang seperti ini, kita akan dapati dalam kitab Mazmur. Misalnya saja dalam Mazmur 51, disana Raja Daud menggunakan sebuah nyanyian untuk mengekspresikan penyesalannya atas tindakan dia saat melakukan dosa perzinahan dengan Betseba. Jadi, sebuah lagu pujian, bukan hanya memiliki bentuk pujian pengajaran, namun pujian sebagai ekspresi hati kita kepada Tuhan.
Sebagai sebuah ekspresi hati seseorang kepada Tuhan, maka nyanyian pujian itu haruslah mewakili jiwa kita. Maka nyanyian pujian itu memang harus cocok dengan zaman kita. Kita tidak bisa memuji Tuhan dengan nyanyian yang digunakan pada tahun 1800 sebab zaman waktu itu dan zaman sekarang berbeda.
Saya mengingat ada sebuah lagu dalam KPPK yang mengunakan istilah “Yesusku mukhalisku … .” Mungkin istilah tersebut di zaman sekarang sudah tidak digunakan sehingga kalaupun kita menyanyikan lagu dengan istilah yang demikian, itu tidak bisa kita hayati dengan baik, sebab kita tidak lagi memahaminya dalam zaman kita. Meskipun demikian, pujian yang menjadi ekspresi hati bagi kita dalam menyembah Tuhan tetap harus dilakukan dengan cara yang sopan dan tidak jadi batu sandungan.
Ada satu anak muda yang kesenangannya adalah music Hard-Rock; Kemudian ayahnya melarang dia untuk terus berkecimpung dalam kesenangan terhadap music Hard-Rock tersebut. Alasan dari ayahnya adalah sebab music tersebut berakar dari ekspresi orang-orang yang frustasi dengan hidup dan memiliki jiwa memberontak. Jika apa yang dikatakan oleh bapak tadi benar, bagaimana jiwa dari music hard-rock itu adalah pemberontakan, maka tipe music yang seperti ini jelas tidak bisa digunakan sebagai ekspresi nyanyian pujian Kristen. Jadi, saat kita menggunakan sebuah pujian sebagai ekspresi dari perasaan kita kepada Tuhan, kita harus uji apakah nyanyian tersebut benar-benar netral artinya tidak menjadi batu sandungan saat kita menyanyikannya.
Menurut saya dalam sebuah ibadah yang baik, kedua jenis pujian yang kita bicarakan tadi, yakni pujian yang digunakan untuk mengajar maupun sebagai ekspresi pujian kita kepada Tuhan sama-sama diperlukan. Dalam ibadah hendaknya isinya bukan hanya ekspresi perasaan kita kepada Tuhan, namun juga butuh nyanyian yang isinya meneguhkan pengajaran Firman Tuhan. Sebaliknya dalam ibadah kita meman juga membutuhkan pujian yang dapat menjadi sarana ekspresi kita dalam menyatakan perasaan kita kepada Tuhan.